Hubungan menstruasi dan Kecelakaan Kerja pada PT. tahun
2004
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
1. Judul Kegiatan : Hubungan Menstruasi dan Kecelakaan…
2. Bidang Kegiatan : PKM Penelitian
3. Ketua Pelaksana Kegiatan
Nama lengkap : Syamsul Arifin
NPM : 100100064y
Jurusan : Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Universitas : Universitas Indonesia
4. Anggota Pelaksana Kegiatan : 4 Orang
5. Dosen Pendamping
Nama Lengkap dan Gelar :
NIP :
6. Biaya Kegiatan Total
DIKTI : Rp. 5.664.000,-
Sumber lain (sebutkan) : -
7. Jangka Waktu Pelaksanaan : Bulan Juni s/d Juli 2005
Ketua Pelaksana Kegiatan Dosen Pendamping
Syamsul Arifin
Wakil Dekan III
Dr Sabarinah B Prasetyo
BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Dunia industri dan manufakturing telah
berkembang sedemikian pesatnya. Di berbagai belahan dunia,
pusat-pusat industri dan manufakturing tumbuh menjamur untuk
memenuhi permintaan konsumen yang begitu besar. Hal tersebut telah
membuat persaingan yang begitu tinggi di kalangan bisnis. Berbagai
macam strategi mereka terapkan agar barang yang mereka produksi
dapat bersaing di pasaran. Peningkatan mutu produksi agar tidak
mengecewakan konsumen serta penekanan biaya produksi telah mereka
lakukan.
Bagi perusahaan besar, mekanisasi alat-alat
produksi telah banyak membuat perubahan dengan semakin
meningkatnya mutu dan semakin rendahnya biaya produksi. Tetapi
bagi perusahaan menengah ke bawah, hal itu menjadi masalah
sehingga mereka pun mengambil cara lain, yaitu penggunaan tenaga
kerja wanita sebagai karyawan mereka.
Pengambilan tenaga kerja wanita bukan tanpa
alasan. Untuk beberapa hal, wanita memang terkenal sebagai wanita
yang teliti, sehingga untuk pekerjaan yang memerlukan ketelitian
tinggi, wanita lebih diutamakan dibandingkan pria. Hal itu secara
langsung maupun tidak langsung diharapkan dapat meningkatkan mutu
barang yang diproduksi perusahaan. Hal lain yang dapat dijadikan
alasan yaitu karena biaya untuk membayar mereka lebih murah. Pada
masa revolusi industri di Inggris, tenaga kerja wanita dan
anak-anak lebih disukai karena upah mereka lebih kecil.
Tetapi, pengambilan tenaga kerja wanita itu
bukan tanpa konsekuensi. Bagaimanapun juga, secara anatomis,
fisiologis, dan psikologis tubuh wanita dan pria memiliki
perbedaan sehingga dibutuhkan penyesuaian-penyesuaian dalam beban
dan kebijakan kerja, diantaranya yaitu hamil dan haid. Dua
peristiwa alami wanita itu memerlukan penyesuaian kebijakan yang
khusus. Untuk hamil, sebagian perusahaan sudah memberikan cuti
hamil, tetapi untuk haid, masih banyak perusahaan yang belum
memberikan hak cuti haid padahal jika kita menengok pasal 13 UU
No.1/1951 maka setiap pekerja seharusnya memiliki hak cuti pada
hari pertama dan kedua masa haid. Tetapi kenyataannya sampai saat
ini masih banyak karyawan yang belum mendapat hak cuti haid,
seperti yang terlihat pada tuntutan yang disuarakan pada
demonstrasi pekerja di PT Biba Multijaya, PT Pantja Tungga
Semarang, CV Asatex, PT Indoraya IV, dan pada kawasan industri
rokok di Kudus.
Para pekerja wanita menuntut hak cuti haid
karena pada saat haid, beberapa wanita biasanya mengalami sakit
yang begitu berat yang bahkan membuat mereka pingsan dan tidak
dapat bergerak dari tempat tidurnya
Pada saat wanita mengalami haid, kadar hormon
dalam tubuh mereka berubah-ubah, hal itu menyebabkan perubahan
emosi yang tidak stabil, selain itu perubahan hormon itu terkadang
membuat mereka lebih ceroboh dibandingkan hari-hari biasanya.
Kecelakaan kerja di lingkungan perusahaan
merupakan masalah yang rumit. Suatu kecelakaan bisa memiliki
banyak faktor yang mempengaruhi. Faktor tersebut bisa berasal dari
pekerja, lingkungan, maupun dari kebijakan perusahaan. Dari faktor
pekerja, salah satu hal yang bisa mempengaruhi adalah keadaan
psikologis atau kejiwaan. Faktor kejiwaan merupakan faktor yang
paling kuat dalam mempengaruhi kecelakaan kerja. Kecerobohan
merupakan salah satu ungkapan jiwa atau kepribadian seseorang yang
dapat mengakibatkan kecelakaan kerja, demikian juga ungkapan jiwa
yang lain seperti emosi dan motivasi kerja akan berpengaruh.
Jenis kelamin juga mempengaruhi terjadinya
kecelakaan kerja. Pekerja pria dan wanita memiliki perbedaan
fisiologis dan psikologis. Antara pekerja pria dan wanita memiliki
perbedaan daya tahan tubuh, ukuran tubuh, dan postur tubuh yang
dapat mempengaruhi cara kerja.
Angka kecelakaan kerja di Indonesia hingga saat
ini masih sangat tinggi. Secara nasional, delapan pekerja
meninggal setiap harinya, sedangkan satu orang di Jakarta terpaksa
tewas setiap hari akibat kecelakaan tersebut.
Menurut data, pada periode Januari hingga Juli
2002 telah terjadi 57.972 kasus kecelakaan kerja sehingga
rata-rata terjadi 414 kecelakaan kerja. Sejumlah 9,5 persen dari
kasus tersebut, 5.476 tenaga kerja mengalami cacat atau setiap
hari lebih dari 39 tenaga kerja mengalami cacat dan dua
diantaranya setiap hari mengalami cacat total sehingga tidak bisa
bekerja lagi.
Sebagian besar buruh perusahaan pakaian jadi PT
Pantja Tungga Semarang adalah wanita (diganti sama tempat yang
dikasih tau sama bu bian, biar ada justifikasi tempatnya).
Karena itulah penulis ingin melihat apakah ada hubungan antara
menstruasi dengan kecelakaan kerja.
B. Perumusan Masalah
Banyak perusahaan yang mempekerjakan karyawan
wanita terutama di bidang konveksi dan tekstil. Wanita juga
memiliki peristiwa alamiah yaitu menstruasi yang membuat para
wanita mengalami perubahan hormon sehingga bisa menimbulkan
perubahan emosi dan perubahan kesigapan atau menjadi lebih
ceroboh. Salah satu penyebab kecelakaan kerja yaitu jenis kelamin
dan kondisi kejiwaan pekerja. Dan angka kecelakaan di Indonesia
masih sangat tinggi.
Karena itulah saya
ingin melihat hubungan antara menstruasi dengan kecelakaan kerja
pada pekerja wanita di PT Pantja Tunggal Semarang periode
2000-2002.
C. Pertanyaan Penelitian
Apakah ada hubungan antara menstruasi dan
kecelakaan kerja pada pekerja wanita?
D. Tujuan Penelitian
Mengetahui hubungan antara menstruasi
dan kecelakaan kerja pada pekerja wanita
Mengetahui besaranya pengaruh
menstruasi dengan kinerja pada pekerja wanita
E. Manfaat
Bagi PT Pantja Tunggal Semarang
memperoleh masukan tentang hubungan antara
menstruasi dengan kecelakaan kerja pada pekerja wanita sehingga
dapat dijadikan bahan pertimbangan saat membuat kebijakan kerja
seperti pambagian beban kerja, shift kerja, dan penentuan cuti
haid bagi pekerja wanita
Bagi mahasiswa
Menambah wawasan dan pengalaman penelitian
dalam mengaplikasikan pengetahuan di bidang keilmuan K3 yang
didapat selama kuliah, terutama tentang kecelakaan
Bagi program K3
Memberikan informasi tentang pengaruh
menstruasi terhadap kecelakaan kerja dalam usaha menurunkan angka
kecelakaan kerja di tempat kerja
F. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian tentang hubungan antara menstruasi
dan kecelakaan kerja pada pekerja wanita ini dilaksanakan di
PT Pantja Tunggal Semarang yang bertempat di
Jl Simongan 98 Semarang. Penelitian dilakukan dengan
menganalisis data primer dandata sekunder pada tahun 2000-2002 dan
melakukan wawancara langsung yang akan dilakukan pada bulan
Juni-Juli 2005. Penelitian ini dilakukan karena masih tingginya
angka kecelakaan di Indonesia dan banyaknya tenaga buruh yang
berasal dari wanita.
BAB II
Tinjauan Pustaka
2.1. Pengertian Kecelakaan Akibat Kerja
Kecelakaan akibat kerja adalah suatu kejadian
yang tidak diduga, tidak dikehendaki dan dapat menyebabkan
kerugian baik jiwa maupun harta benda (Rachman, 1990).
Menurut Suma’mur (1989), kecelakaan akibat
kerja adalah kecelakaan yang berhubungan dengan kerja pada
perusahaan, artinya bahwa kecelakaan kerja terjadi disebabkan oleh
pekerjaan atau pada waktu melaksanakan pekerjaan.
2.2. Kronologis Kecelakaan Akibat Kerja
Timbulnya kecelakaan kerja dipengaruhi oleh
berbagai faktor, dimana faktor yang satu mempengaruhi faktor yang
lainnya.
Berdasarkan pendekatan epidemiologi ( US.
Office of Technology Assesment Washington DC, 1975), faktor-faktor
yang mempengaruhi kecelakaan akibat kerja dapat dikelompokkan
sebagai berikut.
Host, yaitu pekerja yang melakukan
pekerjaan.
Agent, yaitu pekerjaan.
Environment, yaitu lingkungan kerja.
Dari ILCI, dengan memodifikasi teori dari
Heinrich yang terkenal dengan nama teori domino yaitu tentang
terjadinya kecelakaan kerja sebagai berikut:
1. Kurangnya terhadap pengendalian oleh
manajemen (Lack of Control Management) meliputi :
¥ Perencanaan
¥ Pengorganisasian
¥ Kepemim[pinan
¥ Pengendalian
2. Penyebab-penyebab dasar murni (
Basic Couse (s) Origin (s) ):
¥ Faktor personal
¥ Faktor Pekerja
3. Penyebab yang merupakan
gejala-gejala ( Immediate: Cause (s) Simptoms )
¥ Unsafe Act adalah
pelanggaran terhadap prosedur yang dapat
menyebabkan terjadinya kecelakaan.
¥ Unsafe Condition atau
keadaan yang secara langsung dapat menyebabkan
terjadinya kecelakaan.
4. Keterkaitan terjadinya kecelakaan (
Incident Contact ).
5. Kehilangan orang atau harta ( People
Proverty Loss ).
ILO (1989) mengemukakan bahwa kecelakaan akibat
kerja pada dasarnya disebabkan oleh tiga faktor yaitu faktor
pekerja, pekerjaannya dan faktor lingkungan di tempar kerja.
Faktor Pekerja
1.
Umur
Umur mempunyai pengaruh yang penting terhadap
kejadian kecelakaan akibat kerja. Golongan umur tua mempunyai
kecenderungan yang lebih tinggi untuk mengalami kecelakaan akibat
kerja dibandingkan dengan golongan umur muda karena umur muda
mempunyai reaksi dan kegesitan yang lebih tinggi (Hunter, 1975).
Namun umur muda pun sering pula mengalami kasus kecelakaan akibat
kerja, hal ini mungkin karena kecerobohan dan sikap suka
tergea-gesa (Tresnaningsih, 1991).
Dari hasil penelitian di Amerika Serikat
diungkapkan bahwa pekerja muda usia lebih banyak mengalami
kecelakaan dibandingkan dengan pekerja yang lebih tua. Pekerja
muda usia biasanya kurang berpengalaman dalam pekerjaanya (ILO,
1989).
Banyak alasan mengapa tenaga kerja golongan
umur muda mempunyai kecenderungan untuk menderita kecelakaan
akibat kerja lebih tinggi dibandingkan dengan golongan umur yang
lebih tua. Oborno (1982), menyebutkan beberapa faktor yang
mempengaruhi tingginya kejadian kecelakaan akibat kerja pada
golongan umur muda antara lain karena kurang perhatian, kurang
disiplin, cenderung menuruti kata hati, ceroboh, dan tergea-gesa.
2. Tingkat Pendidikan
Pendidikan sesorang berpengaruh dalam pola
pikir sesorang dalam menghadapi pekerjaan yang dipercayakan
kepadanya, selain itu pendidikan juga akan mempengaruhi tingkat
penyerapan terhadap pelatihan yang diberikan dalam rangka
melaksanakan pekerjaan dan keselamatan kerja.
Hubungan tingkat pendidikan dengan lapangan
yang tersedia bahwa pekerja dengan itngkat pendidikan rendah,
seperti Sekolah Dasar atau bahkan tidak pernah bersekolah akan
bekerja di lapangan yang mengandalkan fisik ( Efrench, 1975). Hal
ini dapat mempengaruhi terjadinya kecelakaan kerja karena beban
fisik yang berat dapat mengakibatkan kelelahan yang merupakan
salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya kecelakaan akibat
kerja.
Menurut Achmadi (1990) yang dimaksud dengan
pendidikan adalah pendidikan formal yang diperoleh disekolah dan
ini sangat berpengaruh terhadap perilaku pekerja. Namun disamping
pendidikan formal, pendidikan non formal seperti penyuluhan dan
pelatihan juga dapat berpengaruh terhadap pekerja dalam
pekerjaannya.
3. Pengalaman Kerja
pengalaman kerja merupakan faktor yang dapat
mempengaruhi terjadinya kecelakaan akibat kerja. Berdasarkan
berbagai penelitian dengan meningginya pengalaman dan keterampilan
akan disertai dengan penurunan angka kecelakaan akibat kerja.
Kewaspadaan terhadap kecelakaan akibat kerja bertambah baik
sejalan dengan pertambahan usia dan lamanya kerja di tempat kerja
yang bersangkutan ( Suma’mur 1989).
Tenaga kerja baru biasanya belum mengetahui
secara mendalam seluk-beluk pekerjaannya.
Penelitian dengan studi restropektif di
Hongkong dengan 383 kasus membuktikan bahwa kecelakaan akibat
kerja karena mesin terutama terjadi pada buruh yang mempunyai
pengalaman kerja di bawah 1 tahun (Ong, Sg, 1982).
Pekerjaan
1. Giliran Kerja ( Shift )
Giliran kerja adalah pembagian kerja dalam
waktu dua puluh empat jam ( Andrauler P. 1989). Terdapat dua
masalah utama pada pekerja yang bekerja secara bergiliran, yaitu
ketidak mampuan pekerja untuk beradaptasi dengan sistem shift dan
ketidak mampuan pekerja untuk beradaptasi dengan kerja pada malam
hari dan tidur pada siang hari (Andrauler P. 1989).
Pergeseran waktu kerja dari pagi, siang dan
malam hari dapat mempengaruhi terjadinya peningkatan kecelakaan
akibat kerja ( Achmadi, 1980).
2. Jenis (Unit) Pekerjaan
jenis pekerjaan mempunyai pengaruh besar
terhadap resiko terjadinya kecelakaan akibat kerja (Suma’mur,
1989). Jumlah dan macam kecelakaan akibat kerja berbeda-beda di
berbagai kesatuan operasi dalam suatu proses.
Faktor Lingkungan
1. Lingkungan Fisik
Pencahayaan
Pencahayaan merupakan suatu aspek lingkungan
fisik yang penting bagi keselamatan kerja. Beberapa penelitian
membuktikan bahwa pencahayaan yang tepat dan sesuai dengan
pekerjaan akan dapat menghasilkan produksi yang maksimal dan dapat
mengurangi terjadinya kecelakaan akibat kerja ( ILO, 1989 ).
Kebisingan
Kebisingan ditempat kerja dapat berpengaruh
terhadap pekerja karena kebisingan dapat menimbulkan gangguan
perasaan, gangguan komunikasi sehingga menyebabkan salah
pengertian, tidak mendengar isyarat yang diberikan, hal ini dapat
berakibat terjadinya kecelakaan akibat kerja disamping itu
kebisingan juga dapat menyebabkan hilangnya pendengaran sementara
atau menetap. Nilai ambang batas kebisingan adlah 85 dBa untuk 8
jam kerja sehari atau 40 jam kerja dalam seminggu (Suma’mur,
1990).
2. Lingkungan Kimia
Faktor lingkungan kimia merupakan salah satu
faktor lingkungan yang memungkinkan penyebab kecelakaan kerja.
Faktor tersebut dapat berupa bahan baku suatu produks, hasil suatu
produksi dari suatu proses, proses produksi sendiri ataupun limbah
dari suatu produksi.
3. Faktor Lingkungan Biologi
Bahaya biologi disebabkan oleh jasad renik,
gangguan dari serangga maupun binatang lain yang ada di tempat
kerja. Berbagai macam penyakit dapat timbul seperti infeksi,
allergi, dan sengatan serangga maupun gigitan binatang berbisa
berbagai penyakit serta bisa menyebabkan kematian (Syukri Sahap,
1998).
2.3. Klasifikasi Akibat Kecelakaan Kerja
Berdasarkan pada standar OSHA tahun 1970, semua
luka yang diakibatkan oleh kecelakaan dapat dibagi menjadi:
1. Perawatan Ringan ( First Aid )
Perawatan ringan merupakan suatu tindakan/
perawatan terhadap luka kecil berikut observasinya, yang tidak
memerlukan perawatan medis (medical treatment) walaupun
pertolongan pertama itu dilakukan oleh dokter atau paramedis.
Perawatan ringan ini juga merupakan perawatan dengan kondisi luka
ringan, bukan tindakan perawatan darurat dengan luka yang serius
dan hanya satu kali perawatan dengan observasi berikutnya.
2. Perawatan Medis ( Medical Treatment )
Perawatan Medis merupakan perawatan dengan
tindakan untuk perawatan luka yang hanya dapat dilakukan oleh
tenaga medis profesional seperti dokter ataupun paramedis. Yang
dapat dikategorikan perawatan medis bila hanya dapat dilakukan
oleh tenaga medis yang pofesional: terganggunya fungsi tubuh
seperti jantung, hati, penurunan fungsi ginjal dan sebagainya;
berakibat rusaknya struktur fisik dan berakibat komplikasi luka
yang memerlukan perawatan medis lanjutan.
3. Hari Kerja yang Hilang (Lost Work Days)
Hari kerja yang hilang ialah setiap hari kerja
dimana sesorang pekerja tidak dapat mengerjakan seluruh tugas
rutinnya karena mengalami kecelakaan kerja atau sakit akibat
pekerjaan yan dideritanya. Hari kerja hilang ini dapat dibagi
menjadi dua macam :
jumlah hari tidak bekerja (days away
from work) yaitu semua hari kerja dimana sesorang pekerja
tidak dapat mengerjakan setiap fungsi pekerjaannya karena
kecelakaan kerja atau sakit akibat pekerjaan yang
dideritanya.
jumlah hari kerja dengan aktivitas
terbatas (days of restricted activities), yaitu semua
kerja dimana seorang pekerja karena mengalami kecelakaan
kerja atau sakit akibat pekerjaan yang dideritanya,
dialihkan sementara ke pekerjaan lain atau pekerja tetap
bekerja pada tempatnya tetapi tidak dapat mengerjakan
secara normal seluruh tugasnya. Untuk kedua kasus diatas,
terdapat pengecualian pada hari saat kecelakaan atau saat
terjadinya sakit, hari libur, cuti, dan hari istirahat.
4. Kematian (Fatality)
Dalam hal ini, kematian yang terjadi tanpa
memandang waktu yang sudah berlalu antara saat terjadinya
kecelakaan kerja aaupun sakit yang disebabkan oleh pekerjaan yang
dideritanya, dan saat si korban meninggal.
2.4. Pencegahan Kecelakaan Akibat Kerja
Kecelakaan tidak terjadi secara kebetulan,
melainkan ada penyebabnya (Achmadi, 1990). Kecelakaan akibat kerja
sesungguhnya dapat dicegah asal ada kemauan yang kuat untuk
mencegah. (Suma’mur, 1989).
2.5. Kegiatan – Kegiatan atau Upaya Keselamatan
Kerja
Untuk meningkatkan keselamatan kerja di
perusahaan atau di tempat – tempat kerja, maka ILO, (1989)
menyusun suatu ketentuan, yaitu sebagai berikut :
Peraturan-peraturan, yaitu peraturan
perundangan yang bertalian dengan syarat-syarat kerja
umum, perencanaan –perencanaan, kontruksi, perawatan,
pengujian dan pemakaian industri, kewajiban pengusaha dan
pekerja, latihan, pengawasan kesehatan kerja, pertolongan
pertama pada kecelakaan dan pengujian kesehatan.
Standarisasi, yaitu penetapan
standar-standar.
Pengawasan, yaitu pengawasan tentang
dipatuhinya ketentuan-ketentuan yang diwajibkan.
Penelitian bersifat teknis, yang
meliputi sifat dan ciri-ciri dari bahan-bahan yang
berbahaya, penyelidikan tentang pagar pengaman, pengujian
alat pelindung diri.
Riset medis, meliputi tentang efek-efek
fisiologis dan patologis faktor-faktor lingkungan dan
teknologis, keadaan-keadaan fisik yang mengakibatkan
kecelakaan.
Penelitian secara statistik, untuk
menetapkan jenis-jenis kecelakaan yang terjadi, banyaknya
mengenai siapa saja, dalam pekerjaan apa, dan apa
sebab-sebabnya.
Pendidikan, menyangkut pendidikan
keselamatan dan kurikulum teknik, sekolah-sekolah
perniagaan atau kursus-kursus pertukangan.
Latihan-latihan yaitu latihan praktek
bagi tenaga kerja, khususnya tenaga yang baru, dalam
keselamatan kerja.
Penggairahan yaitu penggunaan aneka
cara penyuluhan atau pendekatan lain untuk menimbulkan
sikap untuk selamat.
Asuransi, yaitu intensif finansial
untuk meningkatkan pencegahan kecelakaan, misalnya dalam
bentuk pengurangan premi yang dibayar oleh perusahaan,
jika tindakan-tindakan keselamatan sangat baik.
Usaha kesehatan pada tingkat
perusahaan, yang merupakan ukuran utama efektif tidaknya
penerapan keselamatan kerja.
2.6. Menstruasi
Pengertian
Haid adalah suatu proses pelepasan lapisan
dalam dinding rahim akibat pengaruh hormon yang terjadi secara
berkala pada wanita usia subur.siklus haid yang normal berlangsung
258 hari ditambah atau dikurangi dua sampai tiga hari. Siklus ini
dapat berbedsa-beda pada setiap wanita yang normal dan sehat.
Pada tiap siklus dikenali tiga masa utamanya
yaitu:
masa haid selama 2-8 hari. Pada waktu itu
lapisan dalam dinding rahim dilepas sedangkan kadar
pengeluaran hormon-hormon dari indung telur adalah paling
rendah.
Masa proliferasi sampai hari ke 14. Pada
waktu itu lapisan dinding dalam rahim tumbuh kembali.antara
hari ke 12-14 dapat terjadi pelepasan sel dari indung telur,
disebut sebagai ovulasi.
Sesudah ini, rahim memasuki masa sekresi,
dimana karena pengaruh hormon, lapisan dalam dinding rahim
menjadi tebal dan siap menyembut bersarangnya hasil pembuahan.
Menstruasi atau haid mengacu kepada pengeluaran
secara periodik darah dan sel-sel tubuh dari vagina yang berasal
dari dinding rahim wanita. Menstruasi dimulai saat pubertas dan
menandai kemampuan seorang wanita untuk mengandung anak, walaupun
mungkin faktor-faktor kesehatan lain dapat membatasi kapasitas
ini. Menstruasi biasanya dimulai antara umur 10 dan 16 tahun,
tergantung pada berbagai faktor, termasuk kesehatan wanita, status
nutrisi, dan berat tubuh relatif terhadap tinggi tubuh.
Menstruasi berlangsung kira-kira sekali sebulan
sampai wanita mencapai usia 45 - 50 tahun, sekali lagi tergantung
pada kesehatan dan pengaruh-pengaruh lainnya. Akhir dari kemampuan
wanita untuk bermenstruasi disebut menopause dan menandai akhir
dari masa-masa kehamilan seorang wanita. Panjang rata-rata daur
menstruasi adalah 28 hari, namun berkisar antara 21 hingga 40
hari. Panjang daur dapat bervariasi pada satu wanita selama
saat-saat yang berbeda dalam hidupnya, dan bahkan dari bulan ke
bulan tergantung pada berbagai hal, termasuk kesehatan fisik,
emosi, dan nutrisi wanita tersebut.
Menstruasi merupakan bagian dari proses reguler
yang mempersiapkan tubuh wanita setiap bulannya untuk kehamilan.
Daur ini melibatkan beberapa tahap yang dikendalikan oleh
interaksi hormon yang dikeluarkan oleh hipotalamus, kelenjar
dibawah otak depan, dan indung telur.
Pada permulaan daur, lapisan sel rahim mulai
berkembang dan menebal. Lapisan ini berperan sebagai penyokong
bagi janin yang sedang tumbuh bila wanita tersebut hamil. Hormon
memberi sinyal pada telur di dalam indung telur untuk mulai
berkembang. Tak lama kemudian, sebuah telur dilepaskan dari indung
telur wanita dan mulai bergerak menuju tuba Falopii terus ke
rahim. Bila telur tidak dibuahi oleh sperma pada saat berhubungan
intim (atau saat inseminasi buatan), lapisan rahim akan berpisah
dari dinding uterus dan mulai luruh serta akan dikeluarkan melalui
vagina. Periode pengeluaran darah, dikenal sebagai periode
menstruasi (atau mens, atau haid), berlangsung selama tiga hingga
tujuh hari.
Bila seorang wanita menjadi hamil, menstruasi
bulanannya akan berhenti. Oleh karena itu, menghilangnya
menstruasi bulanan merupakan tanda (walaupun tidak selalu) bahwa
seorang wanita sedang hamil. Kehamilan dapat di konfirmasi dengan
pemeriksaan darah sederhana.
Kecuali jika seorang gadis telah dipersiapkan
akan kedatangan menstruasi, hal ini bisa menjadi saat yang
mengecewakan baginya. Anak-anak perempuan yang tidak mengenal
tubuh mereka dan proses reproduksi dapat mengira bahwa menstruasi
merupakan bukti adanya penyakit atau bahkan hukuman akan tingkah
laku yang buruk. Anak-anak perempuan yang tidak diajari untuk
menganggap menstruasi sebagai fungsi tubuh normal dapat mengalami
rasa malu yang amat dan perasaan kotor saat menstruasi pertama
mereka. Bahkan saat menstruasi akhirnya dikenali sebagai proses
yang normal, perasaan kotor dapat tinggal sampai masa dewasa.
Namun, dalam tahun-tahun belakangan ini
pendidikan anatomi dan fisiologi yang lebih baik telah menjadikan
penerimaan akan menstruasi. Malahan banyak wanita yang melihat
menstruasi dengan bangga sebagai proses yang hanya terjadi pada
wanita. Beberapa keluarga bahkan memiliki perayaan khusus untuk
menghormati kedewasaan seorang wanita muda.
Meskipun begitu, banyak wanita mengalami
ketidaknyamanan fisik selama beberapa hari sebelum periode
menstruasi mereka datang. Kira-kira setengah dari seluruh wanita
menderita akibat dismenore, atau menstruasi yang menyakitkan. Hal
ini khususnya sering terjadi awal-awal masa dewasa. Gejala-gejala
dari gangguan menstruasi dapat berupa payudara yang melunak,
puting susu yang nyeri, bengkak, dan mudah tersinggung. Beberapa
wanita mengalami gangguan yang cukup berat seperti keram yang
disebabkan oleh kontraksi otot-otot halus rahim, sakit kepala,
sakit pada bagian tengah perut, gelisah, letih, hidung tersumbat,
dan ingin menangis. Dalam bentuk yang paling berat, sering
melibatkan depresi dan kemarahan, kondisi ini dikenal sebagai
gejala datang bulan atau PMS, dan mungkin membutuhkan penanganan
medis.
Dalam beberapa kasus pengadilan di Inggris dan
Perancis, para pengacara telah menggunakan keberadaan PMS untuk
berargumentasi mengenai turunnya kemampuan saat melakukan
perbuatan kriminal. Di masa lalu, PMS dianggap sebagai kondisi
psikosomatik, dan berlanjut menjadi subyek tertawaan, sekarang PMS
dikenal memiliki sebab organik. Beberapa pengobatan telah
diciptakan untuk mengatasi gejala-gejala PMS.
Beberapa wanita mengalami sebuah kondisi yang
dikenal sebagai amenore, atau kegagalan bermenstruasi selama masa
waktu perpanjangan. Kondisi ini dapat disebabkan oleh
bermacam-macam faktor termasuk stres, hilang berat badan, olahraga
berat secara teratur, atau penyakit. Sebaliknya, beberapa wanita
mengalami aliran menstruasi yang berlebihan, kondisi yang dikenal
sebagai menoragi. Tidak hanya aliran darah menjadi banyak, namun
dapat berlangsung lebih lama dari periode normal
BAB III
Kerangka Konsep dan Definisi Operasional
A. Kerangka Konsep
Kecelakaan adalah suatu kejadian yang sangat
kompleks, karena bisa memiliki banyak sekali faktor penyebab.
Penyebab suatu kecelakaan bisa berasal dari manusia, mesin, dan
lingkungan. Faktor manusia dipengaruhi oleh jenis kelamin, umur,
pengalaman, dan kondisi kejiwaan.

Kondisi kejiwaan seseorang bisa dipengaruhi
oleh menstruasi. Terjadi perubahan hormon saaat menstruasi
sehingga bisa menyebabkan wanita lebih mudah marah, ceroboh, dan
lebih sensitif.
Berdasarkan teori tersebut maka dibangunlah
kerangka konsep sebagai berikut:

B. Hipotesa
1. Ada hubungan antara menstruasi dengan
kecelakaan kerja
2. Ada hubungan antara sikap kerja saat
menstruasi dengan kecelakaan kerja
3. Ada hubungan antara ketelitian saat
menstruasi dengan kecelakaan kerja
4. Ada hubungan antara kecekatan saat
menstruasi dengan kecelakaan kerja
5. Ada hubungan antara emosi saat
menstruasi dengan kecelakaan kerja
C. Definisi Operasional
|
No |
Variabel |
Definisi |
Cara ukur |
Alat ukur |
Hasil ukur |
Skala |
|
1 |
Kecelakaan
|
Kejadian yang tidak diharapkan dan tidak
direncanakan yang dapat menimbulkan kerugian |
| |
A |
Indeks kecelakaan |
Angka yang menunjukan frekuensi jumlah
kecelakaan dalam 1 tahun |
Melihat data sekunder laporan statistik
kecelakaan kerja dibagi jumlah rata-rata keryawan yang terlbat
dikali 1000 |
Data kecelakaan perusahaan tahun 2000-2002 |
Jumlah kasus /tahun |
Rasio |
| |
B |
Kecelakaan saat menstruasi
|
Jumlah kasus kecelakaan saat menstruasi
|
Wawancara |
Kuisioner |
Jumlah kasus /tahun |
Rasio |
|
2 |
Menstruasi
|
Peristiwa meluruhnya dinding rahim akibat
proses ovulasi |
| |
A |
Sikap kerja |
Sikap dan perilaku pekerja saat menstruasi
|
Wawancara |
Kuisioner |
1. Baik
2. Buruk
|
Nominal |
| |
B |
Emosi |
Perasaan hati pekerja
|
Wawancara |
Kuisioner |
1. berubah-ubah
2. stabil
|
Ordinal |
| |
C |
Ketelitian |
Perhatian pekerja terhadap detail-detail |
Wawancara |
Kuisioner |
1. Teliti
2. Tidak teliti
|
Ordinal |
| |
D |
Kecekatan |
Kesigapan atau reaksi cepat pekerja
terhadap suatu stimulus |
Wawancara |
Kuisioner |
1. cekatan
2. Tidak cekatan
|
Ordianal |
BAB IV
Metodologi Penelitian
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini ialah deskriptif dengan desain penelitian cross
sectional dengan menggunakan data kecelakaan
PT Pantja Tunggal Semarang tahun 2000-2002.
B. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan
di PT Pantja Tunggal Semarang yang bertempat di Jl Simongan 98
Semarang Jawa tengah, yang bergerak di bidang pembuatan pakaian
jadi.
C. Populasi dan Sampel
Populasi penelitian ini adalah seluruh pekerja
wanita PT Pantja Tunggal Semarang
yang sudah mengalami menstruasi dan belum mengalami menopause
tahun 2000-2002. Seluruh populasi dijadikan sampel penelitian.
D. Sumber Data
Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah
data PT Pantja Tunggal Semarang dan
data kuisioner yang dikumpulkan.
Data yang diambil yaitu:
Data kecelakaan PT Pantja Tunggal
Semarang tahun 2000-2002.
Data kecelakaan pekerja wanita PT Pantja
Tunggal Semarang tahun 2000-2002.
Sikap kerja saat menstruasi.
Kondisi kejiwaan pekerja wanita saat
menstruasi.
Ketelitian dan kecekatan pekerja wanita
saat menstruasi.
E. Pengumpulan Data
Seluruh data dikumpulkan dari laporan
kecelakaan PT Pantja Tunggal Semarang
dari laporan bagian safety and health departement dan
departemen yang terkait, kemudian dikumpulkan dan dikategorikan ke
dalam lembaran pengumpulan data yang dirancang sesuai dengan
kebutuhan.
F. Manajemen Data
F.1 Pengkodean Data (Data Coding)
Pengklasifikasian data dengan pemberian kode
terhadap data sekunder yang dikumpulkan. Pengkodean data ini
meliputi pengkodean terhadap jumlah kecelakaan dan kondisi
kejiwaan pekerja serta sikap pekerja saat menstruasi.
F.2 Penyuntingan Data (Data Editing)
Penyuntingan data sebelum proses pemasukan
data. Penyuntingan data dilakukan oleh peneliti dibantu oleh
penyelia di lapangan dari manajemen PT
Pantja Tunggal Semarang untuk menentukan data yang sesuai
dengan kebutuhan penelitian ini.
F.3 Penstrukturan Data (Data Structure)
Penstrukturan data dikembangkan sesuai dengan
jenis analisa yang dilakukan yaitu analisisn univariat dengan
menggunakan tabel distribusi frekuensi dan analisis bivariat
dengan menggunakan tabulasi silang dari variabel-variabel yang
akan diteliti. Dan disesuaikan dengan jenis program komputer yang
digunakan yaitu SPSS
F.4 Memasukan Data (Entry Data)
Data yang telah dimasukkan ke dalam lembar
pengumpul data dilakukan entry data. Data diolah dan disajikan
dalam distribusi frekuensi dan tabulasi silang.
F.5 Pembersihan Data (Data Cleaning)
Data yang telah dimasukkan kemudian dicek
dengan melihat distribusi frekuensi dari variabel-variabel dan
melihat kelogisannya serta untuk melihat ada tidaknya pencilan
(outliers)
G. Analsis Data
G.1 Analisis Univariat
Untuk memperoleh gambaran distribusi
frekuensi dari data-data berikut:
a. Jumlah kecelakaan tahun 2000-2002.
b. Data kecelakaan pekerja wanita tahun
2000-2002
c. Sikap Sikap kerja saat menstruasi.
d. Kondisi kejiwaan pekerja saat
menstruasi.
e. Ketelitian dan kecekatan pekerja
saat menstruasi.
Untuk memperoleh gambaran distribusi
frekuensi dari data-data diatas setiap tahunnya (nilai
kenaikan atau penurunannya)
Analisis data univariat dilakukan dengan
tabulasi dengan menggunakan program komputer SPSS versi 11.5
G.2 Analisis Bivariat
Untuk memperoleh gambaran hubungan antara
kecelakaan dan menstruasi maka dilakukan uji korelasi dan
regresi.
Analisis data bivariat dilakukan dengan
menggunakan program komputer SPSS versi 11.5
H. Keterbatasan Penelitian
Oleh karena penelitian ini menggunakan data
sekunder, maka sudah sewajarnya kalau memiliki beberapa
keterbatasan, antara lain: data kecelakaan kerja yang diperoleh
berdasarkan laporan kecelakaan kerja dari SHE departemen, maka
data yang diperoleh sangat tergantung pada kejujuran melaporkan
serta kecermatan penulis pada waktu memindahkan data ke dalam
lembar pengumpulan data.
BAB V
Lampiran
A. Jadwal Kegiatan Program
|
Juni (minggu ke-) |
Juli (minggu ke |
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
1 |
Persiapan awal: |
|
Presentasi proposal penelitian |
Ipin |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Perbaikan proposal penelitian |
Ida |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pengurusan izin |
Muhyidin |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Persiapan tim:
ü1 Team building
ü2 Pembagian job desk
ü3 Persiapan kelengkapan
penelitian
|
Muhyidin |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Persiapan tempat:
Survei awal
ü1 Pendekatan managerial
perusahaan
ü2 Penentuan sampel
|
Muhyidin |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2 |
Pengambilan data:
ü1 Data sekunder
ü2 Data primer
|
Febry |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3 |
Pengolahan data
ü1 Entry data
ü2 Analisis data
ü3 Diskusi dan konsultasi
|
Heidy |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4 |
Penyajian hasil |
Ida |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
B. Rincian Anggaran
1. Kesekretariatan
Penggandaan proposal Rp. 95.000,-
Printer dan tinta printer Rp. 550.000,-
Fotokopi kuisioner dan surat-surat Rp.
175.000,-
Kertas A4 80 mg (3 @ Rp. 80.000,-) Rp.
24.000,-
Rental komputer dan warnet Rp. 240.000,-
2. Transportasi
bensin kendaraan atau ongkos kendaraan Rp.
1.240.000,-
Karcis tol Rp. 90.000,-
Parkir Rp. 50.000,-
3. Dokumentasi
film isi 36 Rp. 30.000,-
Cuci cetak Rp. 75.000,-
4. Akomodasi dan konsumsi
Voucer Hp (5 @ Rp. 100.000,-) Rp. 500.000,-
Makan siang (5 @ Rp. 5.000,- selama 60
hari) Rp. 1.200.000,-
Snack Rp. 120.000,-
Diskusi tim Rp. 170.000,-
5. Perlengkapan dan peralatan
Alat tulis (pensil, pulpen, tip-x, spidol,
buku) Rp. 240.000,-
White board Rp. 130.000,-
Disket (3 @ Rp. 45.000,-) Rp. 135.000,-
Souvenir responden Rp. 450.000,-
Souvenir perusahaan Rp. 150.000,-
Total biaya Rp. 5.664.000,-
[ Metroseksual ] [ Infeksi Saluran reproduksi ] [ Nyeri Haid ] [ Perbedaan Kedokteran dgn Kesehatan Masyarakat ] [ Kecelakaan Kereta Api & Safety Behavior ] [ Hubungan Kecelakaan Kerja & Menstruasi ] [ Hujan (sebuah perenungan) ] [ Asuransi Syariah ] [ Perkembangan Masa Remaja ]
|