|
Metroseksual
BAB. I Pendahuluan
1. Latar Belakang
Ingin menjadi seperti David Beckham pesepak
bola asal Inggris yang handal dan keren baik di lapangan maupun di
luar lapangan? Jika jawaban anda adalah ya, maka bersiaplah untuk
menghabiskan uang yang banyak untuk urusan busana, menghabiskan
waktu berjam-jam didepan cermin mengurusi penampilan diri,_bahkan
melebihi istrinya sendiri, Victoria "Posh" adam-mantan anggota
grup musik spice girl_ dan meluangkan banyak waktu untuk menikur,
pedikur, dan banyak memanjakan diri di spa maupun salon.
David Beckham tidak lagi hanya terkenal sebagai
pemain klub sepakbola Real Madrid yang andal. Kini, ia juga
lambang metroseksual. Lambang lelaki yang sangat memperhatikan
penampilan sehari-hari. Lelaki yang sangat peduli terhadap
kesempurnaan setiap jengkal tubuhnya. Lelaki yang dalam merawat
tubuhnya tidak kalah dari perempuan. Memakai parfum, facial,
pembersih wajah, pelembap (moisturizer), spa, atau bahkan merawat
kuku-kukunya.
Manusia memang selalu menjadi objek penelitian
yang menarik diberbagai bidang ilmu pengetahuan, masih banyak
misteri pada diri manusia yang belum terungkap. Demikianpun
perilaku manusia, banyak teori dan model-model yang telah
dikembangkan agar dapat memahami perilaku yang komplek dari mahluk
yang bernama manusia. Banyak teori yang sudah diciptakan untuk
dapat memahami hal-hal yang mendasari seseorang untuk bertingkah
laku; kenapa, bagaimana, kapan, siapa, dan dimana sajakah
lingkungan atau suatu hal dapat mempengaruhi perilaku seseorang.
Diantara berbagai macam teori dan model
perilaku kesehatan yang saat ini menonjol adalah Model Kepercayaan
Kesehatan (Health Belief Model), Model Komunikasi atau
Persuasi (Communication or Persuation Model), Teori Aksi
Beralasan (Theory of Reasoned Action), Model Transteoritik
(Transtheoretical Model), Precede or Proceed Model,
Model difusi inovasi (Diffusions of Innovation Model),
Teori Pemahaman Sosial (Social learning Theory), dan
Analsisi Perilaku terapan (Applied Behavior Analysis).
Hendrik L Blum dari hasil penelitiannya di
Amerika menyatakan bahwa status kesehatan seseorang itu
dipengaruhi oleh 4 faktor; genetik atau keturunan, pelayanan
kesehatan, lingkungan, dan perilaku. Blum menyimpulkan bahwa
lingkungan mempunyai andil yang paling besar terhadap status
kesehatan; kemudian berturut-turut disusul oleh perilaku,
pelayanan kesehatan, dan keturunan yang mempunya andil paling
kecil terhadap status kesehatan. Bagaimana proporsi pengaruh
faktor-faktor tersebut terhadap status kesehatan di negara-negara
berkembang, terutama di Indonesia, masih belum ada penelitian.
Namun apabila dilakukan penelitian, maka mungkin perilaku
mempunyai kontribusi yang paling besar. Dr Soekidjo Notoatmodjo
melakukan penelitian di kecamatan Pasar rebo Jakarta Timur tentang
survei status gizi anak balita dengan menggunakan analisis
stepwise, membuktikan bahwa variabel perilaku terseleksi,
sedangkan variabel pendapatan per kapita (ekonomi) tidak
terseleksi. Meskipun variabel ekonomi di sini belum mewakili
seluruh variabel lingkungan, tetapi paling tidak pengaruh perilaku
lebih besar dari variabel-variabel lain.
Faktor genetik atau keturunan merupakan faktor
yang sulit untuk diintervensi karena bersifat bawaan dari orang
tua. Penyakit atau kelainan-kelainan tertentu seperti diabetes
mellitus, buta warna, albino, atau yang lainnya, bisa diturunkan
dari orang tua ke anak-anaknya atau dari generasi ke generasi.
Pencegahannya cukup sulit karena menyangkut masalah gen atau DNA.
Pencegahan yang paling efektif adalah dengan menghindari gen
pembawa sifatnya.
Faktor pelayanan kesehatan lebih berkait dengan
kinerja pemerintahan yang sedang berkuasa. Kesungguhan dan
keseriusan pemerintah dalam mengelola pelayanan kesehatan menjadi
penentu suksesnya faktor ini. kader desa, puskesmas, dan posyandu
menjadi ujung tombak dalam peningkatan status kesehatan
masyarakat.
Faktor lingkungan menempati urutan ke-3 dalam
indikator kunci status kesehatan masyarakat. Ketinggian,
kelembaban, curah hujan, kondisi satwa maupun tumbuhan memainkan
peranan di sini. Tetapi bagaimanapun juga, kondisi lingkungan
dapat dimodifikasi dan dapat diperkirakan dampak atau ekses
buruknya sehingga dapat di carikan solusi ataupun kondisi yang
paling optimal bagi kesehatan manusia.
Dari ke empat faktor yang mempengaruhi status
kesehatan seseorang, perilaku mengambil bagian yang paling besar.
Perilaku mengambil bagian terbesar dari faktor penentu status
kesehatan seseorang karena sesungguhnya pola hidup yang sehat dan
baik akan membentuk tubuh yang kuat, sehat, serta terhindar dari
penyakit. Hal-hal seperti tidak merokok, menjauhi alkohol, olah
raga teratur, pola makan yang baik, istirahat yang cukup akan
dapat meningkatkan imunitas atau daya tahan seseorang, sehingga
meskipun lingkungan masih kurang baik, pelayanan kesehatan
berkualitas rendah, dan tubuh memilikin gen atau pembawa sifat
yang kurang menguntungkan dapat diminimalisir efek buruknya dengan
pola hidup yang sehat dan baik.
Sebuah perilaku baru telah teramati, khususnya
di daerah ibukota. Para pengusaha atau orang-orang yang telah
mapan dalam karirnya banyak menghabiskan waktu dan biaya untuk
melakukan perawatan diri, pemanjaan diri lebih tepatnya. Perilaku
tersebut adalah metroseksual. Orang-orang metroseksual biasanya
adalah orang yang memiliki karir yang cerah, kondisi finansial
yang baik, dan sangat perhatian terhadap penampilan diri. Mereka
suka meluangkan waktu untuk melakukan perawatan diri seperti pergi
ke salon untuk menikur, pedikur, creambath; spa;dan fitnes center.
Mereka juga tidak ragu untuk menghabiskan berjuta-juta rupiah
untuk memperindah penampilan mereka, karena itulah pakaian,
sepatu, bahkan parfum yang mereka gunakan biasanya adalah produk
impor.
Seorang pria metroseksual rata-rata
menghabiskan 1-2 jam di pagi hari untuk kegiatan rutin dan rela
berjam-jam di salon atau spa selama week end untuk
memanjakan diri (sebagai kompensasi dari kerja kerasnya selama
Senin - Jum'at). Salah seorang pria metroseksual yang tergolong
pengusaha muda menjelaskan rutinitas kegiatan pagi harinya itu
seperti mandi, olahraga ringan, memilih baju yang sesuai, memakai
face moisturiser, bedak tipis, lip gloss, parfum,
dan mengoleskan gel rambut, memakan waktu 1,5 jam. Di tas kerjanya
pun tidak ketinggalan dengan bedak, lip gloss, penyegar
mulut, sikat gigi, parfum serta perlengkapan bisnisnya.
Itu baru dari segi waktu. Belum lagi dari
biaya. Rata-rata seorang pria metroseksual menghabiskan dana Rp. 2
- 5 juta perbulan untuk memenuhi kebutuhannya. Mulai dari ke salon
atau spa, membeli baju, parfum serta aksesoris lainnya. Tapi
seorang pria seperti ini juga terlihat segar dan bugar karena
rutin menjaga kondisi badannya dengan fitnes. Angka itu teramat
wajar dan kecil bagi seorang pria berpenghasilan Rp. 30 - 50 juta
perbulan. Perut tidak boleh berlemak, kerut-kerutan di wajah
sebisa mungkin dihilangkan. Mereka menghalalkan penggunaan bedah
plastik untuk mencapai tujuan tersebut.
(http://lautan.blogspot.com/)
Para pria penganut paham metroseksual ini tidak
lagi takut disebut banci dengan menyapu bedak tipis-tipis atau
sekedar mengoleskan cream tabir surya di wajahnya. Para
metroseksual ini bahkan berani melakukan eksperimen dengan baju
yang dipakainya. Kemeja warna pink yang diserasikan dengan dasi
senada bukan tabu untuk dipakai. Lebih ekstrim lagi, ada pria
metroseksual yang memakai stocking jaring-jaring dalam
kesehariannya.
http://anginsavana.blogspot.com/
2. Tujuan
Menggambarkan perilaku metroseksual yang
sedang berkembang di masyarakat.
Menjelaskan faktor-faktor penyebab atau
pembentuk dari perilaku metroseksual.
menjelaskan dampak kesehatan dan ekonomi
perilaku metroseksual.
3. Manfaat
Mendapatkan gambaran perilaku metroseksual
yang sedang berkembang di masyarakat.
Mengetahui faktor-faktor penyebab atau
pembentuk dari perilaku metroseksual.
Mengetahui dampak yang mungkin ditimbulkan
oleh perilaku metroseksual.
4. Ruang Lingkup
Melihat gambaran perilaku metroseksual yang
sedang berkembang di masyarakat saat ini (tahun 2003-2004) di
daerah perkotaan atau urban khususnya terhadap para eksekutif atau
enterpreneur muda dan para selebritis untuk mengetahi sebab dan
dampak dari perilaku ini dari sisi kesehatan dan ekonomi.
5. Metode Penulisan
Metode penulisan kaya ilmiah ini adalah dengan
melakukan studi penelitian kepustakaan baik yang beraal dari
buku-buku perpustakaan, majalah, koran, artikel-artikel,maupun
yang beraal dari internet.
BAB. II Tinjauan Pustaka
1. Perilaku
Menurut ahli perilaku, Skinner (1979),
mengemukakan bahwa perilaku merupakan hasil hubungan antara
perangsang (stimulus), dan tanggapan (respon). Respon dibedakan
menjadi 2, yaitu:
Respondent response atau reflexive
response, adalah respon yang ditimbulkan oleh
rangsangan-rangsangan tertentu. Perangsangan semacam ini
disebut electing stimuli karena respon-respon yang
relatif tetap, misalnya makanan lezat menimbulkan keluarnya
air liur, sinar matahari membuat mata tertutup. Perangsangan
yang demikian ini biasanya mendahului respon yang ditimbulkan.
Operant response atau instrumental
response, adalah respon yang timbul dan berkembang diikuti
oleh perangsangan tertentu. Perangsangan semacam ini disebut
reinforcing stimuli atau reinforcer karena
perangsangan tersebut memperkuat respon yang telah dilakukan.
Oleh karena itu perangsangan yang demikian itu mengikuti atau
memperkuat suatu perilaku tertentu yang telah dilakukan.
Apabila seorang anak rajin belajar atau setelah melakukan
suatu perbuatan memperoleh hadiah, maka ia akan menjadi lebih
giat belajar atau akan lebih baik lagi melakukan perbuatan
tersebut, dengan kata lain responnya akan lebih intensif atau
lebih kuat lagi.
Sedangkan menurut Notoatmodjo (1997), yang
dimaksud dengan perilaku adalah suatu respon organisme terhadap
rangsangan dari luar subjek tersebut, respon ini dapat berbentuk 2
macam, yakni:
Bentuk pasif adalah respon internal, yaitu
terjadi di dalam diri individu dan tidak dapat langsung
dilihat oleh orang lain, seperti berpikir, tanggapan atau
sikap batin, dan pengetahuan. Perilakunya sendiri masih
terselubung yang disebut covert behavior.
Bentuk aktif yaitu apabila perilaku itu
jelas dapat diobservasi secara langsung. Perilaku disini sudah
tampak dalam bentuk tindakan nyata yang disebut
over
behavior.
Menurut Green (1980) dalam buku Notoatmodjo
(1993) menganalisis bahwa perilaku manusia berangkat dari tingkat
kesehatan dimana kesehatan ini dipengaruhi oleh 2 faktor pokok,
yakni faktor perilaku (behavior causes) dan faktor diluar
perilaku (non behavior causes). selanjutnya perilaku itu
sendiri terbentuk dari 3 faktor, yaitu:
Faktor predisposisi (predisposing
factors), merupakan faktor antesenden terhadap perilaku
yang menjadi dasar motivasi bagi pelaku. yang masuk dalam
faktor ini adalah pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan,
dan nilai.
Faktor pemungkin (enabling factros),
adalah faktor antesenden terhadap perilaku yang memungkinkan
suatu motivasi atau aspirasi terlaksana. faktor ini terwujud
dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya
fasilitas atau sarana kesehatan, misalnya: puskesmas.
Faktor penguat (reinforcing factors),
merupakan faktor penyerta yang datang sesudah perilaku,
memberikan ganjaran intensif atau hukuman atas perilaku dan
berperan bagai menetap atau lenyapnya perilaku itu. termasuk
dalam faktor ini adalah manfaat sosial, jasmani, ganjaran
nyata ataupun tidak nyata yang diterima oleh pihak lain (vicarious
rewards).
(Soekidjo : 1993)
2. Model atau Teori Perilaku
Model Kepercayaan Kesehatan (Health Belief
Model)
Model kepercayaan kesehatan (Rosenstock, 1974,
1977) sangat dekat dengan bidang pendidikan kesehatan. Model ini
menganggap bahwa perilaku kesehatan merupakan fungsi dari
pengetahuan maupun sikap. Secara khusus model ini menegaskan bahwa
persepsi seseorang tentang kerentanan dan kemujaraban pengobatan
dapat mempengaruhi keputusan seseorang dalam perilaku-perilaku
kesehatannya.
Menurut model kepercayaan kesehatan (Becker,
1974, 1979) perilaku ditentukan oleh apakah seseorang: (1) percaya
bahwa mereka rentan terhadap masalah kesehatan tertentu; (2)
menganggap bahwa masalah ini serius; (3) meyakini efektivitas
tujuan pengobatan dan pencegahan; (4) tidak mahal; (5) menerima
anjuran untuk mengambil tindakan kesehatan.
Model Komunikasi atau Persuasi (Communication
or Persuation Model)
Model komunikasi atau persuasi (Mc guire, 1964)
menegaskan bahwa komunikasi dapat dipergunakan untuk mengubah
sikap dan perilaku kesehatan yang secara langsung terkait dalam
rantai kausal yang sama. Efektivitas upaya komunikasi yang
diberikan bergantung pada berbagai input (atau stimulus) serta
output (atau tanggapan terhadap stimulus). Menurut model
komunikasi atau persuasi, perubahan pengetahuan dan sikap
merupakan prekondisi bagi perubahan perilaku kesehatan atau
perilaku-perilaku yang lain. Variabel-variabel input meliputi:
sumber pesan, pesan itu sendiri, saluran penyampai, dan
karakteristik penerima , serta tujuan pesan-pesan tersebut.
Variabel-variabel output merujuk pada perubahan dalam
faktor-faktor kognitif tertentu, seperti pengetahuan, sikap,
pembuatan keputusan, dan juga perilaku-perilaku yang dapat
diobservasi.
Teori Aksi Beralasan (Theory of Reasoned
Action)
Teori aksi beralasan (Fishbein dan Ajzen, 1975,
1980) menegaskan peran dari niat seseorang dalam menentukan apakah
sebuah perilaku akan terjadi. Teori ini secara tidak langsung
menyatakan bahwa perilaku pada umumnya mengikuti niat dan tidak
akan pernah terjadi tanpa niat. Niat-niat seseorang juga
dipengaruhi oleh sikap-sikap terhadap suatu perilaku , seperti
apakah ia merasa perilaku itu penting. Teori ini juga menegaskan
sikap "normatif" yang mungkin dimiliki orang-orang; mereka
berpikir tentang apa yang akan dilakukan orang lain-(terutama,
orang-orang yang berpengaruh dalam kelompok) pada suatu situasi
yang sama.
Model Transteoritik (Thranstheoretical Model)
Model trnasteoretik (atau "Model Bertahap", "Stages
of Change"), sesuai namanya , mencoba menerangkan serta
mengukur perilaku kesehatan dengan tidak bergantung pada perangkap
teoritik tertentu. Proschaska dan kawan-kawan (1979) mula-mula
bermaksud menjelaskan proses apa yang terjadi bila peminum alkohol
berhenti minum alkohol, dan juga terhadap proses dalam berhenti
merokok. Penelitian ini mengidentifikasikan 4 tahap independen:
prekontemplasi, kontemplasi, aksi, dan pemeliharaan.
"Prekontemplasi" mengacu pada tahap bila seseorang belum
memikirkan sebuah perilaku sama sekali , orang itu belum bermaksud
mengubah suatu perilaku. Dalam tahap "kontemplasi", seseorang
benar-benar memikirkan suatu perilaku, namun masih belum siap
untuk melakukannya. Tahap "aksi" mengacu kepada keadaan bila orang
telah melakukan perubahan perilaku, sedangkan "pemeliharaan"
merupakan pengentalan jangka panjang dari perubahan yang telah
terjadi. Dalam tahap "aksi" maupun "pemeliharaan", "kekambuhan"
dapat terjadi, yaitu individu kembali pada pola perilaku sebelum
"aksi"
Model transteori sejalan dengan teori-teori
rasional atau teori-teori pembuatan keputusan dan teori ekonomi
yang lain, terutama dalam mendasarkan diri pada proses-proses
kognitif untuk menjelaskan perubahan perilaku.
Precede or Proceed Model
Selama lebih dari satu dasawarsa terakhir,
Lawrence Green dan rekan-rekannya mengembangkan Precede or
proceed model, yang sekarang ini terkenal untuk merencanakan
program-program pendidikan kesehatan (Green, Kreuter, Deeds, dan
Patridge, 1980; Green & Kreuter, 1991) meskipun model ini
mendasarkan diri pada model kepercayaan kesehatan dan
sistem-sistem konseptual lain, namun model precede merupakan model
"sejati", yang lebi mengarah kepada upaya-upaya pragmatik memgubah
perilaku kesehatan dari pada sekedar upaya pengembangan teori.
Green dan rekan-rekannyamenganalisis kebutuhan kesehatan komunitas
dengan cara menetapkan 5 diagnosis yang berbeda, yaitu diagnosis
sosial, diagnosis epidemiologi, diagnosis perilaku, diagnmosis
pendidikan, dan diagnosis administrasi atau kebijakan.
Difusi Inovasi
Model difusi inovasi (Rogers & Shoemaker, 1971;
Rogers, 1973) menegaskan peran agen-agen perubahan dalam
lingkungan sosial, oleh karena itu mengambil fokus yang agak
terpisah dari individu sasaran utama.
Teori Pemahaman Sosial (Social Learning
Theory)
Teori pemahaman sisial menekankan pada hubungan
segitiga antara orang (menyangkut proses-proses kognitif),
perilaku, dan lingkungan dalam suatu proses deterministik
resiprokal (atau kausalitas Resiprokal) (Bandura, 1977; Rotte,
1954) kalau lingkungan menetukan atau menyebabkan terjadi perilaku
kebanyakan, maka seorang individu menggunaka proses kognitifnya
untuk menginterpretasikan lingkungannya maupun perilaku yang
dijalankannya, serta memberikan reaksi dengan cara mengubah
lingkungan dan menerima hasil perilaku yang lebih baik. oleh
karena itu teori pemahaman sisial menjembatani jurang pemisah
antara model-model kognitif, atau model-model yang berorientasi
pada pembuatan keputusan rasional, dengan teori-teori lain diatas.
3. Metroseksual
Metroseksual. Etimologi: dari kata Yunani,
metropolis artinya ibu kota plus seksual. Definisi: sosok
narsistik dengan penampilan dandy, yang jatuh cinta tidak hanya
terhadap diri sendiri, tetapi juga gaya hidup urban.
Evolusi tren gaya pria bisa disiratkan melalui
film-film James Bond. Di era 1970-an, Mr. Bond diperankan Sean
Connery yang sangat macho, dengan rahang keras dan kadang
berewokan. Medio 1980-an agen rahasia Inggris ini tampil lebih
lembut dan necis, sebagaimana diwakili Roger Moore (dan Timothy
Dalton). Memasuki dekade 1990-an, sosok agen 007 diwakili Pierce
Brosnan yang sangat dendi. Busana dan aksesorinya menjadi semakin
stylish dan branded, rambutnya pun sangat kelimis. Dan, jika
diperhatikan, Bond di era 1990-an dan 2000 lebih kerap mematut
diri di depan kaca dibanding pada era sebelumnya. Bisa dikatakan,
Brosnan adalah proto-metroseksual.
Kesamaan ini bukan sekadar kebetulan. Brosnan
menjadi perwujudan sosok Bond berbarengan dengan mulai munculnya
tren metroseksual di daratan Eropa dan Amerika. Istilah
metroseksual sendiri diperkenalkan Mark Simpson, kolomnis fashion
Inggris, dalam bukunya, Male Impersonators: Men Performing
Masculinity, pada 1994 untuk menggambarkan kelompok anak muda
berkocek tebal yang hidup di kota besar (metropolis) atau di
sekitarnya, sangat menyayangi bahkan cenderung memuja diri sendiri
(narcisstic), serta sangat tertarik pada fashion dan perawatan
tubuhnya. Kulit mereka mulus, lembut dan harum. Wajahnya yang
halus tampak dipoles bedak tipis, sementara kukunya dicat dan
bibirnya dioles lip balm -- bahkan kadang terlihat mengilap
karena dipulas lip gloss.
Meski sama-sama pesolek dan pemuja diri
sendiri, metroseksual ini tak bisa disamakan dengan dendi. Bahkan,
Simpson menyebut dendi adalah gaya kaum bangsawan abad ke-18.
Pasalnya, meski sama-sama rapi, harum, dan gemar berlama-lama di
depan cermin, gaya busana para dendi cenderung konservatif dan
mengikuti pakem, sementara kaum metroseksual justru dicirikan
dengan keberaniannya mendobrak aturan dan bereksperimen dengan
fashion.
Namun, jangan tergesa-gesa memberi label
negatif kepada kaum metroseksual. Mereka adalah pekerja cerdas
yang penuh percaya diri serta sangat peduli pada keluarganya dan
teman-temannya. Umumnya mereka pasangan setia yang penuh perhatian
pada keluarganya. Mereka bukan figur ayah yang gagah, kulitnya
berminyak dan tubuhnya beraroma tembakau atau keringat, tahu
segala hal, dan penentu segala keputusan yang tak bisa dibantah.
Jauh dari itu, kaum metroseksual adalah suami yang tak ragu
menggandeng dan mencium istrinya di muka umum, ayah yang tubuhnya
selalu segar dan wangi, gemar merangkul anak-anaknya, sama-sama
belanja di mal, menonton film atau berburu pernik-pernik aksesori.
Pendeknya, mereka adalah teman yang baik bagi istri dan
anak-anaknya. Ferry Salim dan Jeremy Thomas, misalnya, acap
terlihat di mal dan bioskop sambil menggandeng anak dan istrinya.
Tren metroseksual, sebagaimana tren-tren
lainnya, mungkin akan berlalu. Namun, jejak-jejak yang
ditinggalkannya akan membekas dalam. Tren ini menyadarkan kita,
bahwa kehidupan mempunyai banyak sisi: selain berkarya, ada juga
saat bermanja; selain kantor dan kolega, ada pula rumah dan
keluarga. Semuanya membutuhkan keseimbangan. Kita percaya bahwa
fenomena ini tidak sekadar menghasilkan peluang pasar, tetapi juga
generasi baru yang lebih akrab dengan orang tuanya, dan penuh
perhatian pada diri sendiri ataupun lingkungannya.
(http://www.swa.co.id/detail_topfeatures.asp?id=666)
4. Contoh Pria-Pria Metroseksual
Meski awalnya sempat dipandang dengan tatapan
heran, nyatanya fenomena metroseksual terus merebak. Mulanya tren
ini hanya menjangkiti para model, artis dan orang-orang media,
belakangan ia terus meluas ke kalangan olahragawan, pebisnis
(khususnya eksekutif muda kota besar), pengacara, bahkan diplomat!
Majalah The Economist edisi 5 Juli 2003 mengungkapkan, di Amerika
Serikat jumlah kaum metroseksual mencapai 30%-35%. Mayoritas dari
mereka adalah pekerja profesional dan eksekutif muda.
Beckham bukan satu-satunya pria pesolek. Di
deretan pesohor saja ada Brad Pitt, George Clooney, Antonio
Banderas, Ian Thorpe, Tom Cruz, dan masih banyak lagi. Tren
metroseksual juga bukan monopoli New York, London, Paris atau
kota-kota dunia lainnya. Di Indonesia pun gaya ini tengah
digandrungi pria metropolitan – terutama di Jakarta, Surabaya dan
Bandung. Ketika beberapa waktu lalu Majalah Femina menggelar ajang
pemilihan pria terseksi di Indonesia, nama-nama yang muncul: Ferry
Salim, Ari Wibowo, Nicholas Saputra, Jeremy Thomas dan Adjie
Massaid. Semuanya bagian dari kalangan selebriti yang memang harus
selalu tampil berdandan, merawat diri, suka pesta, hedonis, dan
aktif mengikuti fashion. Bukan rahasia lagi, waktu dandan yang
dibutuhkan penyanyi berambut gimbal Marcell Siahaan sampai tiga
kali lebih lama ketimbang istrinya, Dewi "Dee" Lestari Mangunsong.
Salah satu anggota trio Rida-Sita-Dewi dan penulis sejumlah novel
laris ini cuma butuh waktu 20 menit untuk merias wajah dan urusan
dandan lainnya.
Marcell tidak hanya rajin ke salon untuk
mengeramas, meng-cream bath dan mengelabang rambut gimbalnya, tapi
juga untuk facial, manikur dan pedikur. Busananya pun harus serba
padu padan (matching) hingga ke pakaian dalam. Begitu pula Ferry
Salim, Ari "Ale" Sihasale, Jeremy Thomas, Nico Siahaan, Anjasmara
dan Roger Danuarta. Para eksekutif pun tak mau kalah dari para
pesohor tadi. Lihat saja gaya Alino Sugianto (Country Manager
Ericsson), Tommy Pratama (Promotor Original Production), Dino
Patti Djalal (diplomat), Johanes Dermawan (pengusaha sejumlah
kafe), Ari Batubara (PT Wiraswasta Gemilang Indonesia,
penyalur/distributor Valube dan Pennzoil), Nico Gunze (pemilik
Nico Nico Intimo Lingerie, Kemang), dan banyak lagi yang lain.
"Sebagai entertainer, saya dituntut untuk
tampil prima dan tidak ingin mengecewakan fans saya," terang
Ferry. Dia menegaskan, sebelum fenomena metroseksual itu merebak,
memperhatikan perawatan tubuh sudah dilakukan sejak masa-masa di
bangku SMA. Ferry sudah rajin melakukan creambath, spa, facial,
manicure, dan pedicure. "Semua perawatan itu rutin saya lakukan
setiap bulan. Facial, manicure, pedicure, dan potong rambut
dilakukan istri sendiri. Sedangkan sisanya, yaitu creambath dan
spa, saya lakukan di salon langganan yang berada di Jakarta,"
terang Ferry.
Untuk urusan perawatan tubuh, Ferry sedikit
bisa menghemat. Maklum, sang istri, Merry Prakasa, adalah lulusan
kosmetologi dari sebuah perguruan tinggi di AS. Khusus jadwal ke
spa, Ferry selalu melakukannya sebulan dua kali di luar kota.
Selain bermanfaat menjaga kebugaran tubuh, spa diyakini mampu
menjaga keharmonisan rumah tangga. Pria kelahiran Palembang pada 8
Januari 1967 itu juga menganggap olahraga sebagai poin penting
untuk menjaga kecantikan tubuh selain pergi ke salon. Karena itu,
Ferry mempunyai jadwal rutin fitnes dan berenang lima kali
seminggu. Tubuh bugar. Jangan lupa pakaian. "Untuk saat santai,
saya suka memakai celana jins dipadukan kemeja. Namun, untuk
setiap acara resmi, saya selalu menggunakan jas," tutur pecinta
jas Armani itu. Sebagai finishing touch agar tampil percaya diri,
ayah dari Brenda Nabila Salim dan Brandon Nicholas Salim itu
selalu tidak melupakan parfum. "Khusus parfum, memang saya selalu
memakai yang impor, menggunakan aroma rempah atau dipadu dengan
buah-buahan. Karena itu, setiap ke luar negeri saya selalu membeli
parfum minimal tiga jenis," terang pemilik tubuh ideal seberat 70
kg dan tinggi 180 cm itu.
Untuk perawatan tubuh itu, Ferry mengaku
memakan dana yang cukup besar. Tapi, itu bukan masalah karena yang
terpenting adalah penampilan prima tiap kesempatan. "Kalau memang
butuh perawatan, berapa pun akan saya bayar," papar Ferry.
Ferdy Hasan lain lagi. Presenter kondang itu
mengaku rutin merawat tubuh sejak di bangku SMP. Ferdy juga
berpendapat, pria juga boleh merawat tubuh. "Saya rasa itu lumrah.
Apalagi zaman sekarang tak ada lagi istilah tabu bagi pria yang
melakukan perawatan tubuh. Ini sudah seperti kebutuhan. Pria kan
juga perlu memperhatikan penampilan," ujar pria ganteng itu.
Karena sudah biasa melakukan perawatan sejak SMP, Ferdy merasa
bahwa bersolek sudah menjadi pola hidupnya hingga kini. Dia
mengaku tak canggung dan malu setiap pergi ke salon. "Masyarakat
sekarang kan lebih terbuka. Sekarang sudah banyak pria yang pergi
ke salon untuk melakukan perawatan tubuh," kata Ferdy. Apalagi,
imbuh dia, sebagai public figure, Ferdy memang merasa perlu
memperhatikan penampilan. Karena itu, host acara Selamat Datang
Pagi itu rajin sekali merawat diri. Sekali dalam dua pekan, dia
mencukur rambutnya. "Kalau creambath, biasanya sebulan sekali.
Kalau facial, ya seperlunya saja. Bisa satu atau dua bulan sekali.
Tergantung kondisi. Kalau ingin, ya saya lakukan," terangnya.
Untuk urusan perawatan wajah, Ferdy sering
melakukan sendiri di rumah dengan bantuan istrinya. "Biasanya saya
pakai bahan alami saja, seperti alpukat (avokad) dan bengkuang,"
kata pria yang ramah dan murah senyum itu. Selain rutin potong
rambut, creambath, dan facial, pria dua anak tersebut juga sering
mengunjungi spa untuk aroma terapi dan massage. "Tapi, itu nggak
mesti. Saya ke sana kalau memang benar-benar perlu saja,"
imbuhnya. Tetapi, aku Ferdy, dirinya tak melulu pergi ke salon
untuk mendapatkan perawatan tubuh. "Kadang saya memanggil ke rumah
dan kadang ke salon," kata pria yang punya salon langganan di
bilangan Kebon Jeruk itu.
Meskipun merawat tubuh itu menghabiskan banyak
uang, pria berusia 30 tahun itu ternyata tak punya bujet khusus.
"Kalau lagi pengin dan perlu, ya tinggal lakukan saja." Bahkan,
Ferdy sering pergi ke salon bersama istrinya. "Safina (istri
Ferdy) tidak keberatan kalau saya merawat tubuh. Malah, dia sering
ikut pas saya mau pergi ke salon," jelas presenter kuis itu. Bau
badan? Untuk menangkal tamu yang acap datang tak diundang itu,
demikian Ferdy, "Aku menggunakan deodorant yang tidak beraroma,
juga parfum." Dia menyebut dua merek parfum favoritnya.
(http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Box&id=54121)
Aries Iskandar
Sosok Wangi di Dunia Bisnis
"Munculnya fenomena pria metroseksual bukan hal
yang aneh," ujar Aries Iskandar, Presdir PT Creativ Seven
Inspirasi atau C7 ini. Maklum, pria 29 tahun ini terbiasa melihat
kaum pria yang sudah lebih peduli dengan penampilan ketika ia
berada di AS -- sekitar 10 tahun ia tinggal di sana untuk meraih
gelar sarjana dan master. Biasanya, kaum pria yang sangat detail
dalam merawat tubuhnya adalah para eksekutif yang bekerja di
bidang keuangan, konsultan hukum, serta profesional yang bekerja
di industri hiburan. Karena tuntutan pekerjaanlah juga yang
mendorong mereka menampilkan dirinya yang terbaik, mulai dari
ujung kepala hingga kaki.
Memang bukan sekadar penampilan, tapi yang
lebih penting, menurut Aries, adalah aspek kesehatan dan
kebugarannya. "Dan untuk itu, saya merasa tidak sayang kalau harus
mengeluarkan dana besar," kata insinyur dan master of science
dalam operation research yang menganggarkan Rp 1-2 juta untuk
perawatan tubuh dan Rp 2-3 juta per bulan untuk busana ini.
Bukan berarti harus mempunyai tubuh berotot
seperti Rambo memang. Namun, setidaknya, Aries tidak ingin
terlihat berlemak, khususnya di seputar perut. "Biarpun badan
besar, tetapi penuh tonjolan lemak sana-sini dan otot terlihat
lembek, aduh, sama sekali tidak menarik," kata pria yang rajin
melakukan aerobik, tenis dan renang yang saat ini terdaftar
sebagai anggota Celebrity Fitnes di EX Building, bersebelahan
dengan Plaza Indonesia, Jakarta.
Tubuh yang sehat dan bugar, dikatakannya, akan
meningkatkan daya konsentrasi diri pada pekerjaan. Dan, membantu
menimbulkan citra diri yang positif. Demikian pula, cara
berpakaian dan penampilan diri secara keseluruhan, adalah awal
yang menentukan dalam pergaulan. "First impression dapat mendukung
kesuksesan kita," kata profesional yang berpenghasilan Rp 30–50
juta/bulan ini.
Akan tetapi, hal ini bukan berarti tidak
menjadi diri sendiri. Tetap berdandan sesuai dengan karakter diri
dan kesukaan kita. Aries sendiri lebih comfortable dengan gaya
kasual dan sportif. Namun, untuk momen atau acara resmi, ia tidak
keberatan jika harus pakai jas lengkap dengan aksesorinya, serta
sepatu resmi yang senada dengan warna jasnya. "Untungnya, saya
bekerja di bidang kreatif, yang tidak mengharuskan busana formal,"
kata pemakai parfum Hugo Boss dan Issey Miyake ini.
Sama seperti kebanyakan pria metroseksual,
Aries menganut prinsip work hard, play hard. Setelah bekerja
keras, ia menikmati hasilnya dengan memanjakan diri. Juga, merawat
badan agar merasa rileks, segar, sehat, nyaman, menarik, wangi dan
rapi. "Saya ke spa rata-rata sebulan sekali. Saya merasa nyaman
dan segar kembali setelah tubuh dipijiti, mandi sauna, creambath,
dan refleksi," ungkap lajang yang merasa kerepotan mencari spa
khusus pria di Jakarta.
Untuk bersantai sambil ketemu klien Aries suka
ngopi di Starbucks yang jaringannya tersebar luas, atau nongkrong
di Blowfish yang berlokasi di seputar Mega Kuningan Jakarta,
minimal sekali seminggu. "Peluang bisnis bisa lahir dari
tempat-tempat seperti ini," ujar pengagum George Soros dan
penggemar Chaterine Zetta Jones ini.
Selain kemampuan otak, menurut Aries, dunia
bisnis juga membutuhkan sosok yang menarik, sehat dan bugar.
Kuku-kuku harus terawat dan bersih. Kulit mulus. Rambut terpotong
rapi. Badan wangi. Gigi rapi dan putih, karena rajin menggosok
gigi serta memakai dental floss secara teratur. "Semua itu
merupakan bagian dari tuntutan dunia kerja," tutur pria
berkacamata yang rajin berkunjung ke salon, Peter Saerang atau
Skin Tech, minimal sebulan sekali ini. Bujetnya, Rp 500 ribu-1
juta.
Aries mengaku tidak seheboh pria metroseksual
sesungguhnya yang sangat detail layaknya perempuan dalam merawat
tubuhnya, mulai dari kepala hingga kaki, bahkan memakai krim malam
sebelum tidur, misalnya. Namun, ia mengaku rata-rata 1-2 jam
meghabiskan waktu untuk ritual paginya, mulai dari mandi hingga
memadupadankan busana, sebelum berangkat ke kantor. Ia juga tidak
menyangkal kalau isi tasnya, selain perlengkapan kerja, juga
sisir, parfum dan lip gloss.
Di akhir pekan, ritual memanjakan dirinya lebih
seru, berendam di bak mandi bisa 30 menit lebih. Pakai aromaterapi
dan sabun cair yang dilarutkan di air. Sambil berendam, ia
biasanya baca-baca sambil diiringi musik. "Kadang-kadang sampai
ngantuk dan jatuh tertidur," ujar penikmat jaz serta jenis musik
yang diusung U2, Sarah Mc Lehan dan Dewa ini.
Khusus membaca, ia meluangkan waktunya minimal
6 jam dalam seminggu untuk buku-buku yang kebanyakan tentang
bisnis. Selain majalah bisnis seperti Business Week versi bahasa
Inggris, Warta Ekonomi dan SWA, ia juga melahap Men`s Health yang
banyak membahas tentang kesehatan dan kebugaran tubuh. Kemudian,
Cosmopolitan dan Dewi untuk menambah wawasan tentang fashion dan
gaya hidup.
Mulyadi
Rapat di Ruang Pijat
"Melakukan perawatan tubuh dan menjaga
penampilan tak lain adalah tuntutan pekerjaan," ujar Mulyadi.
Pengacara muda, berusia 34 tahun, lulusan Fakultas Hukum
Universitas Indonesia Jakarta 11 tahun silam ini tidak menyangkal
kalau berdandan dan tampil rapi bisa memberikan kepuasan pribadi,
di samping membahagiakan pasangan.
Sebagai pengacara dan pemilik law firm yang ia
dirikan bersama rekannya dengan bendera Maqdir & Mulyadi,
berkantor di Menara BNI, Jakarta, Mulyadi merasa bahwa kerja
kerasnya perlu dihargai dengan memanjakan diri. Secara berkala ia
mengunjungi spa di Hotel Shangri-La dan di salah satu tempat di
bilangan Jl. Gunung Sahari, Jakarta. Yang menarik, meeting dengan
klien pun bisa dilakukan sambil berendam di whirpool. Membicarakan
kasus pun bisa sambil massage. "Sebulan bisa dua kali, sekali
datang bisa 4-5 orang," ungkapnya.
Tidak harus di ruang rapat memang, membicarakan
bisnis pun kerap dilakukan di music lounge atau kafe. Tempat
favorit Mulyadi adalah di lobby lounge Hotel Shangri-La, Hotel JW
Mariot, atau Hotel Mulia. Kadang-kadang juga di coffee shop yang
berlokasi di plaza seperti Starbucks atau Coffe Bean. Untuk urusan
yang lebih fun bersama teman dan keluarga, Mulyadi memilih Pasir
Putih atau News Café, yang berlokasi di bilangan Kemang, Jakarta.
Di sela-sela kegiatannya yang padat, peraih
master hukum dari Universitas New South Wales, Australia, 1996 ini
selalu menyediakan waktu untuk urusan perawatan tubuh. Ia rajin ke
salon, tidak hanya untuk potong rambut, tapi juga creambath,
facial, manikur dan pedikur. Sekali datang ia bisa menghabiskan
dana tak kurang Rp 500 ribu.
Di rumah ia bisa lebih setengah jam melakukan
perawatan tubuh. Rambut adalah prioritas utama, berikutnya adalah
mulut dan gigi, kulit wajah, kulit tubuh, dan seterusnya hingga
kuku. Ia menyebut beberapa merek untuk urusan ini, Marks & Spencer
(deodoran), Calvin Klein (after shave lotion), Biore (scrub
wajah), dan L’Oreal (hair spray). Semua itu yang menyediakan
istrinya, sedangkan produk fashion ia belanja sendiri.
Untuk jas ia pilih Hugo Boss dan Ermenegildo
Zegna, tapi koleksinya terbanyak Giorgio Armani. Koleksi dasinya
sekitar 25, terbanyak merek Versace tapi favoritnya Alfred
Dunhill. Untuk belanja sepatu, ia kerap ke Linea yang menjual
merek-merek sepatu asal Italia. Untuk pengharum tubuh, ia suka
Christian Dior, Calvin Klein dan Giorgio Armani. Namun, ia mengaku
bukan kolektor parfum walau dalam tas dan mobil Mercynya selalu
terdapat parfum. "Referensi saya adalah istri dan teman-teman,"
ujar Mulyadi yang tidak malu mengakui bahwa ilmu bersoleknya ini
tertular rekan pengacara seniornya, Adnan Buyung Nasution dan O.C.
Kaligis.
Untuk mendapatkan tubuh yang bugar, Mulyadi
rajin mengunjungi fitnes club di Hotel Shangri-La, di mana ia
menjadi anggotanya, dua kali seminggu. Pemilik tubuh tinggi
langsing ini juga penggemar joging, golf dan boling. Sekali waktu
ia juga suka berarung jeram di Sungai Citarik, Jawa Barat. Tak
kurang Rp 2,5 juta/bulan untuk urusan olah raga dan kebugaran ini.
Bagi penyuka novel karya John Grisham, yang
banyak mengulas soal hukum ini, berdandan saat ini bukan lagi
menjadi monopoli kaum wanita. Di saku celana atau jas ayah seorang
putri ini, selalu terselip sisir, penyegar mulut, sapu tangan dan
permen mint. Ada juga PDA dan ponsel Sony Ericsson yang bisa tiga
kali setahun ia ganti. Di dalam tas Feragamo Salvatore, selain
dokumen, ada juga handuk kecil, kaus T dan dasi cadangan.
Mulyadi termasuk laki-laki yang suka
berlama-lama berendam di bathup, bisa sampai 45 menit. Namun, itu
tidak dilakukannya setiap hari. "Paling tidak dua kali seminggu,"
ujarnya. Agar tubuhnya bisa benar-benar istirahat di waktu malam
dan kembali segar keesokan harinya, di kamar tidur ia juga pakai
aromaterapi. Mulyadi menganggap gambaran dirinya sebagai orang
yang romantis, realistis, easy going, open minded dan loyal.
Sebagai pengacara, tampil chic adalah tuntutan, apalagi praktik
hukumnya di bidang hukum korporasi, litigasi, arbitrasi,
bankruptcy, dan merger-akuisisi, yang hampir semuanya menyangkut
persoalan perdata.
Tantowi Yahya
Who Wants To Be A Metroseksual
Tantowi Yahya mengaku sudah lama tampil chic
dan wangi. Menurutnya, tampil fashionable, segar dan wangi bukan
hanya dominasi wanita. "Laki-laki juga harus," tuturnya. Terlebih
dengan status dirinya saat ini sebagai selebriti yang tidak ingin
kucel, bau dan berantakan.
Tiap hari ia bisa sampai menghabiskan waktu
setengah jam di kamar mandi. Walau begitu, bangun pagi sekitar
waktu subuh ia tidak terus langsung mandi. Kebersihan dari ujung
rambut sampai kaki ia perhatikan betul. Untuk mandi ia memakai
Dove, sedangkan untuk rambut memakai sampo perawatan khusus,
Intergreen. "Kebugaran tubuh adalah prioritas," tutur presenter
Who Wants To Be A Millioner ini. Urutan prioritas lain bagian
tubuh yang dianggap penting adalah kebersihan mulut dan gigi,
rambut, kulit wajah, tubuh, kuku dan organ pribadi.
Untuk deodoran dan aftershave, ia menggunakan
Tommy Hilfiger, juga Bvlgari. Scrub wajah dan tubuh, memakai
keluaran Australia, Simple, sementara untuk urusan cat rambut,
L`Oreal. Sunblock dan face moisturizer-nya merek ROC, keluaran
Swiss. Tiap bulan bisa Rp 1-2 juta untuk konsumsi produk
perawatan. "Istri saya biasanya yang mengurus segala kebutuhan
itu," ujar kelahiran Palembang 29 Oktober 44 tahun silam ini yang
pertama kali dikenal sebagai presenter acara kuis di TVRI, Gita
Remaja. Namun, ia kerap juga punya waktu untuk belanja sendiri,
biasanya 1-2 kali tiap bulan.
Mantan Manajer Promosi BASF yang kini Direktur
Pengelola di perusahaan miliknya sendiri, PT Ciptadaya Prestasi
yang membidangi rekaman, rumah produksi, manajemen artis, promosi,
dan event organizer ini, juga mengaku kerap bertandang ke spa. Di
akhir pekan, bersama istrinya, Dewi, ia suka datang ke Paras di
bilangan Pondok Indah. Ia bisa menikmati tubuhnya dipijat, karena
untuk relaksasi dan menghilangkan stres. Mandi sauna juga ia
lakukan di sana. Pengeluaran sekali ke spa bisa sampai Rp 1 juta.
Beberapa salon beken di Jakarta, Lu vaze, Green
Door dan Peter Saerang, kerap ia kunjungi hampir tiap akhir pekan.
Bukan cuma untuk gunting rambut, tapi juga mengecat rambut, facial
treatment serta manikur-pedikur. Ongkos yang ia habiskan hampir
sama untuk ongkos ke spa. Untuk kebugaran tubuh, Tantowi menjadi
anggota di Executive Club, Hotel Hilton Jakarta, dan rutin ke sana
untuk fitnes seminggu sekali. Dengan frekuensi yang sama ia juga
suka joging. Pembaca majalah A+, Matra, Soccer dan Tabloid Bola
ini bisa menghabiskan dana hingga Rp 1,5 juta untuk urusan
kebugaran tiap bulan.
Sebagai pria metroseksual, Tantowi juga selalu
punya waktu bertandang ke kafe atau coffe shop. "Paling sering di
Hotel Mulia, paling tidak seminggu sekali," tuturnya. Hotel
tersebut jadi tempat kesenangannya untuk bertemu klien dan
membicarakan bisnis. Untuk refreshing, Tantowi memilih Bugs Café
di Pondok Indah.
Saat di panggung atau sedang mengisi acara
kuis, terkadang juga untuk keperluan bisnis, Tantowi memilih
kemeja Cerutti atau Hugo Boss untuk menunjang penampilannya. Jas
Giorgio Armani, dasi Bvlgari atau Boss, dan pantolan lebih sering
ia jahitkan sendiri dengan harga sekitar Rp 35 juta.
Harsya Subandrio
Bekal Perlengkapan Mandi
Malam, 7 Maret lalu, ketika acara
penganugerahan 1rst Women of The Year ANTV, tampak Miranda Goeltom
berpasangan dengan Harsya Subandrio, membacakan nominasi dan
pemenang untuk kategori pendidikan. Penampilan mereka begitu
anggun, mewah dan glamor.
Terlebih Harsya yang masih muda, ganteng, dan
berbadan tegap dengan tinggi dan berat 89 kg - 180 cm. Duda
beranak satu ini memang tidak asing bagi pemirsa televisi, karena
ia pembawa acara misteri Percaya Nggak Percaya, yang disiarkan
ANTV. Suaranya juga akrab didengar setiap Jumat dan Sabtu di Radio
One Jakarta, karena ia memang penyiar di sini.
Bagi kelahiran 25 Januari 1974 ini, penampilan
sangat penting. Apalagi di Indonesia yang, menurutnya, rata-rata
orang pertama kali melihat penampilan. Apalagi, karena
lingkungannya adalah dunia entertainment, penampilan yang baik
dari atas sampai bawah menjadi semacam keharusan. "Agar orang bisa
menerima kita," katanya.
Harsya merasa harus bisa menyesuaikan diri
dengan lingkungan pekerjaannya. Ilmu ini ia dapatkan dari ayahnya,
yang selalu menyiapkan dasi dan kemeja di mobilnya, sehingga
ketika ayahnya bertemu klien, ia bisa cepat menyesuaikan diri.
"Ayah saya, meski ke mal saja, polo shirt-nya selalu dimasukkan,"
katanya. Meski penampilan baik, yang diajarkan ayahnya adalah
kepala harus "berisi" agar klop dengan penampilannya. Ia mengakui
juga banyak mengamati penampilan yang rapi dari rekannya sesama
pembaca acara, Daddo Parus.
Perawatan, bagi Harsya, juga sangat penting.
Bahkan, ia mengaku jika menyangkut masalah perawatan tubuh, ia
bisa malu sendiri. Ia memiliki perawatan mandi yang banyak sekali,
yang selalu dimasukkannya dalam tas. Kesehariannya, ia selalu
membawa tas punggung yang berisi perlengkapan untuk perawatan,
penampilan serta hobi. Isinya, selain sabun cair yang beroma
laki-laki, ada pasta gigi, shaver, dan pelembab dari produk
L’Oreal yang harus dibawa ke mana-mana karena kulit mukanya
tergolong kering. Bahkan, khusus untuk pelembab Harsya mempunyai
beberapa jenis. "Memang orang bilang kayak perempuan, atau terlalu
berlebihan. Tapi, menurut saya normal saja," katanya sambil
tertawa.
Di tas tersebut juga harus ada sikat badan
untuk mandi yang berbentuk sarung tangan dan mudah dipakai seperti
yang ia pakai sehari-hari. Ia mengaku keringatnya banyak, apalagi
aktivitasnya penuh, maka ia harus meluangkan waktu untuk mandi di
bawah shower dan menyikat badannya. Sementara untuk mendapatkan
cukuran yang bersih, ia menggunakan pelemas dari Gillete yang
berbentuk gel. Itu belum termasuk seperangkat alat gunting kuku
satu set untuk manikur-pedikur. Ada juga handuk dan baju ganti.
"Kalau di dalam tas tidak ada salah satunya, saya akan panik,"
katanya.
Ia juga mempunyai tiga pasang pakaian tidur
dari Jockey yang selalu ia pakai, meski ia ke luar kota. Untuk
celana dalam ia memilih yang jenis boxer merek Next, Jockey, Homme
atau Calvin Klein. "Sebenarnya saya tidak melihat mereknya, tapi
produknya memang long lasting," kata pemakai sepatu Next untuk
yang resmi dan Adidas atau Nike untuk yang sportif.
Masalah baju, menurutnya, secara tidak sengaja
ia menyukai produk-produk seperti Guess dan Next. Untuk celana ia
suka memilih G2000, meski sering menjahitkan sendiri. Untuk jas
atau jaket, ia memilih Cerruti, Next atau Hugo Boss. Jam ia
memilih yang besar dengan merek DKNY, Guess, Next, Nike dan Casio.
Kacamata sunglasses-nya adalah merek Oakcley. Parfum yang
digunakan, dari dulu ia konsisten memakai Fahrenheit.
Olah raga yang digelutinya sejak dulu sofbol,
tapi karena kesibukannya, ia sering bolos latihan. "Tapi, pada
prinsipnya saya senang semua olah raga," kata pria berkulit gelap
yang rutin push up dan sit up setiap bangun dan menjelang tidur
ini.
Harsya termasuk yang memperhatikan jenis
makanan. Karena setelah check up, ternyata kadar kolesterolnya
tergolong tinggi sehingga harus menghindari daging, nasi dan
kentang goreng. "Sekarang kalau makan di luar, saya harus mencari
sayur. Sebisa mungkin ada ikannya," katanya.
Ia mengaku saat ini tidak sempat ke spa karena
dibutuhkan waktu yang lebih panjang, sementara diakuinya
mobilitasnya sangat tinggi. Harsya juga tidak suka ke salon, ia
lebih memilih ke barber shop langganannya yang cocok dengan
seleranya, yaitu Pax di Grand Wijaya dan Citicuts di Sarinah
Building. Sebulan, ia bisa potong rambut model cepak 2-3 kali.
Menyangkut kegiatan bersama teman-teman, ia
mengaku era clubbing sudah berakhir. Sebagai gantinya, ia senang
nonton dan suka nongkrong di coffee shop. Harsya bersyukur dengan
pekerjaannya ini, karena ia bisa menentukan kapan waktu sibuk dan
santai. Setiap pagi ia menghidupkan televisi Star World untuk
menonton tayangan Oprah Winfrey selama satu jam dan kemudian
berolah raga. Jika tidak ada jadwal syuting atau kegiatan lain, ia
bahkan bisa melakukan hobinya yang lain, menonton film-film
kegemarannya di rumah atau belanja DVD. "Saya sangat menikmati
hidup," kata pengendara BMW seri 318 ini.
Nico Genze
Citra di Balik Celana Dalam
Wajahnya kerap tampil di halaman mode majalah,
padahal Nico Genze bukan model. Akan tetapi, ia memang tidak
jauh-jauh dari dunia fashion. Pria berdarah Jerman ini memang
perancang lingerie dan pakaian dalam untuk pria, tapi bukan produk
massal. Memulai bisnisnya di Indonesia sejak 2001, Niconico
Intimo, nama butiknya, kini memiliki 7 gerai di Jakarta dan dua
gerai di Bali, serta 10 konter di department store di beberapa
kota besar.
Kegiatan Nico banyak tersita untuk mendesain
produk dan mengurus tokonya. Produksinya dilakukan di Modena,
Italia. Ia juga harus aktif membuat strategi pemasaran dan bekerja
sama dengan para desainer lain serta beberapa majalah untuk urusan
promosi.
Dalam kesehariannya, ia bangun pukul 7 pagi.
Kemudian push up atau sit up sekitar 10 menit, mengecek jadwal
kegiatan hari itu, kemudian makan pagi. Menu sarapannya, yoghurt,
telur mata sapi dan pancake, kadang-kadang makanan lain ala Eropa.
Ia mengaku tidak melakukan diet, malah ada usaha menambah berat
badan -- saat ini berat dan tingginya 75 kg – 182 cm. Ia mengaku
beruntung hidup di Indonesia karena makanannya adalah makanan yang
sehat, baik sayuran maupun buahnya. "Saya mencoba makan makanan
yang sehat. Saya menghindari makanan yang terlalu banyak
minyaknya," katanya dalam bahasa Indonesia yang fasih.
Berangkat ke kantor pukul 08.30, Nico selalu
bersemangat memulai aktivitas sehari-harinya, baik mendesain,
memimpin rapat ataupun ketemu klien. Habis makan siang,
kadang-kadang ia meluangkan waktu sekitar satu jam untuk ke Martha
Tilaar untuk creambath atau facial treatment. "Kalau di Bali saya
bisa melakukannya minimal seminggu sekali, karena waktunya longgar
dan tidak banyak rapat," ujar pria yang hobi berenang dan
berselancar ini.
Rutin berolah raga tapi ia mengaku tidak suka
ke gim atau fitnes centre, karena menurutnya terlalu monoton.
Makanya, ia memilih olah raga yang dinamis, seperti tenis, soccer
atau squash, yang bisa dilakukannya di akhir pekan.
Baginya, kesehatan adalah penting. Penampilan
juga tidak kalah penting. "Niconico bukan hanya produk, tapi juga
image. Maka yang akan dilihat bukan hanya apa produknya, dalam hal
ini underwear, tapi siapa desainernya," katanya. Maka, ia harus
rutin mencuci muka, dan merek sabun kesukaannya, Clinique. Untuk
after shave, ia menggunakan produk merek Bvlgari. Parfum, tepatnya
eau de toillete favoritnya adalah Lanvin, Joop, Versace dan
Aramis.
Ia mengaku juga sangat perhatian terhadap
perawatan gigi, yakni selain rajin menyikat gigi, menggunakan
mouth wash dan shower gigi, juga secara berkala mengunjungi dokter
gigi. "Perawatan memang harus dimulai selagi muda," ujar kelahiran
7 November 1974 ini memberi alasan.
Untuk baju, ia cenderung memilih yang
konservatif kasual yang disesuaikan dengan karakternya. "Saya
bukan termasuk orang yang mengikuti tren fashion," katanya. Ia
yakin dengan personal style. Kendati demikian, ia mengoleksi
beberapa branded fashion dengan item-item yang rada konservatif
dan "aman", dari Marc Jacobs, Helmut Lank dan Gucci. Untuk celana
ia suka merek Prada, sementara jasnya merek Ermenegildo Zegna dan
Hugo Boss. Kacamata sunglasses Gucci dan Armani. Ia mengaku
mengoleksi dasi, kini jumlahnya 100-an. Menurutnya, semua merek
ada di situ. Sepatu yang dipakainya merek Gucci dan Prada. "Yang
paling penting dalam penampilan adalah sepatu. Sebab, pertama
kali, people judge you by your shoes," katanya.
Sebenarnya, Nico juga mempunyai koleksi fashion
yang tidak bermerek. Dan itu tidak menjadi persoalan kalau pantas
dikenakan, dan matching dengan penampilan secara keseluruhan. Yang
menyenangkan adalah saat memburu barang-barang itu. Sering ia
mendapatkannya di luar kota, karena di Jakarta ia tidak sempat.
Bisa di Bali, atau bahkan luar negeri seperti Singapura, Jerman
dan Kanada. "Hanya produk perawatan yang dibeli di dalam kota,"
ujarnya.
Untuk urusan bersenang-senang, ia tidak lagi
clubbing yang menurutnya bukan masanya lagi bagi orang seusianya.
"Paling ke Cinnabar atau Burgundy," katanya menyebut kafe dan wine
bar di bilangan Segi Tiga Emas, Jakarta.
(http://www.swa.co.id/detail_topfeatures.asp?id=669)
BAB. IV Pembahasan
Metroseksual memang merupakan suatu perilaku
yang unik di daerah perkotaan. Sesungguhnya diperlukan penelitian
yang terarah untuk dapat melakukan analisa fenomena tersebut.
Faktor-faktor pembentuk perilaku ini perlu dikaji lebih jauh dan
dampak terhadap kesehatannya pun perlu dicari tahu.
Meski baru terbatas pada daerah ibukota, bukan
suatu hal yang tidak mungkin bahwa suatu saat masyarakat luas akan
mengadopsi perilaku ini.
1. Sebab-Sebab Perubahan
Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, perilaku
manusia merupakan obyek penelitian yang sangat kompleks, karena
itulah saya akan membahas perubahan perilaku orang-orang
metroseksual melalui model atau teori yang sudah ada.
a. Lingkungan
Dalam teori nativisme, perkembangan perilaku
semata-mata hanya tergantung pada faktor lingkungan dan tidak
mengakui adanya pembawaan yang dibawa lahir. John locke, tokoh
empirisme mengungkapkan teori yang disebutnya tabula rasa yaitu
jiwa manusia yang baru lahir itu adalah seperti meja atau papan
lilin yang belum tergores. Akan menjadi apa bayi itu kelak
sepenuhnya tergantung pada pengalamanpengalaman apa yang memenuhi
jiwa anak tersebut. Aliran ini disebut juga aliran optimisme.
Lingkungan sering disebut miliu, environment
atau juga disebut nurture. Lingkungan dalam pengertian psikologi
adalah segala apa yang berpengaruh dalam diri individu dalam
berperilaku. Lingkungan turut berpengaruh terhadap perkembangan
pembawaan dan kehidupan manusia. Lingkungan dapat digolongkan
menjadi:
lingkungan manusia. Yang termasuk kedalam
lingkungan ini adalah keluarga, sekolah, dan masyarakat
termasuk didalamnya kebudayaan, agama taraf kehidupan, dan
sebagainya.
lingkungan benda. Yaitu benda yang terdapat
disekitar manusia yang turut memberi warna pada jiwa manusia.
lingkungan geografis. Latar geografis turut
mempengaruhi corak kehidupan manusia. Masyarakat yang tinggal
di daerah pantai mempunyai keahlian, kegemaran, dan kebudayaan
yang berbeda dengan manusia yang tinggal di daerah yang
gersang.
Kebanyakan orang-orang metroseksual adalah
orang-orang yang dituntut oleh lingkungan untuk dapat selalu
tampil prima dan penuh percaya diri. Maka dari itulah mereka harus
bisa mencerminkan karakteristik yang penuh dengan karisma karena
mereka adalah para eksekutif muda yang harus memiliki hubungan
interpersonal dan jaringan atau networking yang baik, atau mereka
mungkin adalah para entertain yang harus memiliki penampilan yang
"menjual".
Jadi dapat dikatakan bahwa lingkungan telah
membentuk kepribadian mereka terutama lingkungan sosial: para
penggemar, sutradara, ataupun relasi bisnis.
b. Persepsi
Dalam teori health belief model seseorang akan
berperlaku tergantung dari: (1) percaya bahwa mereka rentan
terhadap masalah kesehatan tertentu; (2) menganggap bahwa masalah
ini serius; (3) meyakini efektivitas tujuan pengobatan dan
pencegahan; (4) tidak mahal; (5) menerima anjuran untuk mengambil
tindakan kesehatan.
Keyakinan atau kepercayaan (belief) yang ada
pada diri merekalah yang menggerakan mereka untuk berperilaku.
Dengan berperilau seperti itu, mereka yakin bahwa hal tersebut
akan banyak membantu mereka dalam pekerjaan ataupun dalam bidang
lainnya.
2. Dampak Kesehatan Metroseksual
Perilaku memegang peranan terbesar dalam
pembentukan status kesehatan seseorang. Orang-orang metroseksual
adalah orang-orang yang sangat perhatian terhadap kondisi
fisiknya. Banyak diantara mereka yang pergi ke tempat fitness
center secara rutin, melakukan suatu olah raga secara teratur,
makan makanan bergizi dengan teratur, dan banyak lagi perilaku
mereka yang pada dasarnya merupakan perilaku yang sehat. Mereka
juga sangat perhatian dengan personal higiene atau kebersihan
pribadi.
Walau terkadang ada yang mengidentikan mereka
dengan orang-orang yang suka "clubbing" atau sedikit suka dengan
minum beralkohol, tetapi selama hal tersebut hanya sekedar
rekreasi akhir pekan dan minum dalam jumlah yang minim atau tidak
sampai membuat mereka kecanduan, maka hal tersebut tidak akan
banyak mengganggu kesehatannya, selama olah raga rutin, pola makan
bergizi yang baik, dan perawatan diri yang baik masih menjadi pola
perilaku yang mendasari hari-hari mereka.
3. Dampak Ekonomi Metroseksual
Hal yang cukup mengganjal dari perilaku
metroseksual adalah budaya konsumtif yang berlebihan. Disadari
atau tidak orang-orang metroseksual cenderung berlebihan atau
boros dalam menggunakan uangnya. Berbagai perawatan ekstra yang
seharusnya tidak perlu mereka dapatkan, dilakukannya pula.
Mengingat bahwa para metrosexsual ini adalah
orang mapan dan berpenghasilan menengah ke atas, budget Rp. 3 juta
per bulan untuk membeli pakaian dan assesioris nya adalah buget
paling minim. Sementara untuk perawatan wajah dan pembentukan
badan, pria metrosexsual membutuhkan dana sekitar Rp. 1,5 juta
sampai Rp2 juta per bulan.
Hal tersebut diperparah karena produk-produk
yang dikonsumsinya rata-rata adalah produk impor atau luar negeri.
Jika saja ia mau membeli produk dalam negeri, maka jumlah devisa
yang bisa didapatkan oleh negara tentunya akan meningkat.
Patut dicurigai, sebenarnya kapitalisme
globallah yang menciptakan fenomena metroseksual, bukan
metroseksual itu yang muncul lebih dulu kemudian diikuti oleh
produk-produk yang mendukungnya. Buktinya, relasi antarmanusia
yang makin emosional pun antara lain tercipta oleh kemajuan
teknologi telepon selular. Orang menjadi makin emosional dengan
short message service (SMS). Bukan sebaliknya, SMS itu muncul
karena terdorong oleh relasi antarmanusia yang makin emosional.
Jadi, sebenarnya metroseksual adalah perilaku
yang cukup sehat dan baik, karena sudah sewajarnya jika seorang
pria memperhatikan penampilan dirinya secara fisik, apalagi jika
hal tersebut bisa membantu atau meningkatkan mereka dalam urusan
pekerjaan. Hal yang patut menjadi catatan adalah perilaku
konsumtif yang perlu dikurangi atau disiasati.
Mungkin pria metroseksual seksual yang bisa
dijadikan teladan adalah Aa Gym, yang sukses dalam karirnya
(sebagai da’i maupun enterpreneur) yang memperhatikan penampilan
diri (Aa Gym disebutkan sebagai salah satu pria metroseksual dalam
sebuah tayangan infotainment).
BAB. IV Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
Metroseksual adalah suatu perilaku yang
terjadi pada pria yang mapan secara finansial maupun karir
yang berlebihan dalam memperhatikan penampilan dirinya.
Banyak hal yang bisa mempengaruhi perilaku
seseorang. Perilaku metroseksual mungkin terbentuk karena
pengaruh persepsi pribadi ataupun lingkungan.
Dengan pola hidup yang sehat seperti makan
teratur dan bergizi, olah raga yang rutin, istirahat ataupun
rekreasi yang cukup, serta perawatan diri yang baik. Status
kesehatan orang-orang metroseksual dapat dikatakan baik.
Pola konsumsi yang berlebihan dan perawatan
yang tidak diperlukan dari orang-orang metroseksual menjadi
hal yang perlu mendapat perhatian.
Perilaku metroseksual adalah perilaku yang
bagus selama pola hidup yang sehat seperti olah raga teratur,
pola makan yang bagus, dan istirahat atau rekreasi yang cukup
tidak diiringi dengan sikap berlebihan atau konsumtif.
Saran
Perlu adanya penelitian yang baik mengenai
perilaku metroseksual.
Civitas akademika, khususnya dosen dan
mahasiswa FKM haruslah menjadi orang yang paling peka terhadap
perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat.
Daftar Pustaka
Notoatmodjo, Soekidjo Dr. Pengantar
Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku. 1993. Andi offset.
Yogyakarta
Purwanto, Heri. Pengantar Perilaku
Manusia untu Keperawatan. 1998. EGC. Jakarta
Graeff, Judith A, dkk. Komunikasi untuk
Kesehatan dan Perubahan Perilaku. 1996. UGM Press.
Yogyakarta
Bandura A. Social Learning Theory.
1977. Prantice Hall. New York
SWA 06/XX/18-31 MARET 2004
Rosenstock. I. M. Social Learning Theory.
1974. Prentice Hall. Engelwood cliffs. NY
Mc Guire W. J. Inducing Resistance to
Persuation: Some Contemporary Approach Advances in
Experimental Social Psycology. 1964. Academic Press. San
Diego CA
Fishbein, M & Ajzen. Belief, Attitudes,
Intention, and Behavior: an Introduction to Theory and
Research. 1975. Addison-Wesley. Reading MA
Green L DKK. Health Education Planning:
a Diagnostic Approach. 1980. Mountain View. CA: Mayfield
Roger. E & Shoemaker F. Communication of
Innovation. 1971. Frec Press. New York
Sabtu, 3 Januari 2004 Suara Merdeka
http://www.kapanlagi.com/h/0000006685.html
http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Box&id=54121
http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?id=2004032800280131
http://www.swa.co.id/detail_topfeatures.asp?id=670
http://www.kompas.com/kesehatan/news/0310/25/054739.htm
http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0308/31/latar/525418.htm
http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0401/25/aksen/818989.htm
http://www.e-psikologi.com
[ Metroseksual ] [ Infeksi Saluran reproduksi ] [ Nyeri Haid ] [ Perbedaan Kedokteran dgn Kesehatan Masyarakat ] [ Kecelakaan Kereta Api & Safety Behavior ] [ Hubungan Kecelakaan Kerja & Menstruasi ] [ Hujan (sebuah perenungan) ] [ Asuransi Syariah ] [ Perkembangan Masa Remaja ]
|
|